KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjadikan kredensial mikro sebagai salah satu instrumen penting guna memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan dinamika dunia kerja.
Direktur Pembelajaran dan Mahasiswa (Belmawa) Kemdiktisaintek Beny Bandanadjaja menilai bahwa selain ijazah dan kualifikasi akademik, kredensial mikro juga menjadi hal yang sangat penting.
Dikutip dari berbagai sumber, “Dalam konteks inilah, kredensial mikro menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat relevansi pendidikan tinggi,” katanya dalam Sosialisasi Panduan Kredensial Mikro di Jakarta, Kamis.
Oleh karena itu, Beny mendorong kepada perguruan tinggi untuk senantiasa berinovasi menyediakan ekosistem pembelajaran yang semakin fleksibel, adaptif, serta responsif terhadap pesatnya perkembangan zaman.
Baca juga: BAZNAS RI Bersama Kemdiktisaintek Buka Beasiswa bagi 200 Mahasiswa Asal Palestina
Kemdiktisaintek Perkuat Relevansi Pendidikan Tinggi dengan Dinamika Dunia Kerja
Melalui skema kredensial mikro, mahasiswa diberikan keleluasaan untuk mengambil unit-unit pembelajaran yang lebih ringkas dan terarah pada penguasaan kompetensi spesifik.
Guna mendukung langkah transformatif tersebut, Kemdiktisaintek merumuskan Buku Panduan Penyelenggaraan Kredensial Mikro di Perguruan Tinggi sebagai acuan utama yang terstandardisasi.
Buku panduan ini disusun sedemikian rupa untuk menyamakan persepsi seluruh pimpinan kampus terkait tata kelola, penjaminan mutu, hingga mekanisme pelaporan yang tepat.
“Dengan demikian, kredensial mikro tidak dipandang hanya sebagai bentuk pembelajaran jangka pendek, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi yang tetap memiliki standar mutu, capaian pembelajaran yang jelas, serta relevansi yang kuat dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selain membenahi urusan manajerial, Beny juga mendorong pihak kampus agar senantiasa memperkuat kolaborasi bersama dunia usaha, industri, dan asosiasi profesi dalam menyusun capaian pembelajaran.
Melalui sinergi yang solid antara teori akademik di kampus dan kebutuhan riil di lapangan, Kemdiktisaintek optimistis sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompeten dapat tercipta untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. [Din]




