ADA kalanya kita merasa belum menjadi hamba yang baik. Shalat masih sering kurang khusyuk, tilawah belum rutin, istighfar masih sedikit, dan hati masih mudah lalai. Saat merenungi diri sendiri, terkadang muncul rasa malu kepada Allah karena begitu banyak kekurangan yang masih melekat.
Namun, di tengah semua ketidaksempurnaan itu, ada satu kenyataan yang tak pernah berubah: Allah tidak pernah berhenti memberi nikmat.
Setiap pagi kita masih dibangunkan dengan napas yang utuh. Mata masih mampu melihat cahaya, kaki masih bisa melangkah, dan hati masih diberi kesempatan untuk bertobat. Betapa banyak karunia yang kita nikmati setiap hari tanpa pernah benar-benar kita minta. Matahari terbit tanpa kita pesan, udara tetap bisa dihirup tanpa kita bayar, dan jantung terus berdetak atas izin-Nya.
Baca Juga: Kedudukan Hamba yang Jujur di Sisi Allah
Allah Tak Pernah Berhenti Memberi Nikmat
Inilah bukti bahwa kasih sayang Allah jauh lebih luas daripada amal kita.
Sering kali manusia merasa baru pantas menerima nikmat setelah menjadi sempurna. Padahal, Allah justru melimpahkan rezeki kepada hamba-Nya meski mereka masih penuh dosa. Bukan karena Allah meridhai maksiat, melainkan karena Dia Maha Pengasih dan selalu membuka pintu agar manusia kembali kepada-Nya.
Rasulullah mengajarkan bahwa Allah lebih bergembira atas tobat seorang hamba daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Artinya, sebesar apa pun kesalahan kita, jalan pulang kepada Allah tidak pernah ditutup.
Maka jangan biarkan rasa “aku belum baik” berubah menjadi alasan untuk menjauh dari ibadah. Justru karena kita belum sempurna, kita semakin membutuhkan Allah. Jangan menunggu menjadi saleh baru rajin berdoa. Jangan menunggu hati bersih baru membaca Al-Qur’an. Semua amal itulah yang perlahan membersihkan hati kita.
Cobalah sesekali menghitung nikmat, bukan hanya menghitung masalah. Ketika rezeki terasa sempit, masih ada kesehatan yang menyertai. Saat doa belum terkabul, masih ada keluarga yang mengasihi. Bahkan ketika ujian datang bertubi-tubi, Allah tetap memberi kemampuan untuk bertahan menjalaninya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini mengajarkan bahwa rasa syukur bukan lahir karena hidup tanpa masalah, tetapi karena kita menyadari betapa banyak karunia Allah yang tetap mengalir di tengah segala kekurangan.
Hari ini, mungkin kita belum menjadi hamba yang taat seperti yang dicita-citakan. Namun jangan putus asa. Selama Allah masih memberi umur, berarti Dia masih memberi kesempatan. Selama nikmat masih mengalir, berarti pintu taubat masih terbuka.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga kita termasuk hamba yang tidak hanya menikmati nikmat Allah, tetapi juga semakin dekat kepada-Nya melalui rasa syukur, taubat, dan amal saleh yang terus diperbaiki sedikit demi sedikit. [DW]





