SELAMA ini madu dan royal jelly mungkin lebih sering dibicarakan ketika orang membahas produk lebah. Padahal, ada satu bahan lain yang tidak kalah menarik, yaitu propolis. Bahan berwarna cokelat kekuningan hingga gelap ini sebenarnya merupakan resin yang dikumpulkan lebah dari berbagai sumber tumbuhan. Di dalam sarang, propolis digunakan lebah untuk membantu melindungi dan menjaga kondisi sarangnya.
Menariknya, propolis mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, asam fenolat, dan polifenol. Komposisinya dapat berbeda-beda tergantung tumbuhan asal dan wilayah tempat propolis dikumpulkan. Karena itu, manfaat antara satu produk propolis dengan produk lainnya belum tentu sama.
Baca Juga: Peran Penting Stasiun Cipendeuy di Jalur Selatan Pulau Jawa
3 Manfaat Propolis yang Jarang Diketahui untuk Kesehatan
Selain dikenal karena aktivitas antimikrobanya, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menemukan sejumlah potensi lain yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.
1. Mendukung Kesehatan Mulut
Propolis juga memiliki potensi yang menarik dalam menjaga kesehatan rongga mulut. Sifat antimikrobanya telah banyak diteliti, termasuk terhadap berbagai mikroorganisme.
Tinjauan ilmiah menunjukkan bahwa propolis memiliki aktivitas antibakteri, antivirus, antijamur, dan antiparasit dalam penelitian laboratorium. Beberapa penelitian pada manusia juga mulai melihat penggunaannya sebagai terapi pendamping pada kondisi tertentu. Meski demikian, propolis tentu tidak menggantikan kebiasaan dasar seperti menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan sela gigi, dan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi.
2. Berpotensi Mendukung Kesehatan Metabolik
Propolis juga mulai mendapat perhatian dalam penelitian mengenai kadar gula darah dan metabolisme. Meta-analisis terhadap berbagai uji terkontrol menemukan bahwa konsumsi propolis berpotensi menurunkan kadar gula darah puasa, insulin, HbA1c, serta indikator resistensi insulin pada orang dewasa.
Penelitian lain yang lebih khusus pada penderita diabetes tipe 2 juga menemukan perbaikan pada sejumlah parameter metabolik setelah suplementasi propolis.
Namun, hasil ini tidak berarti penderita diabetes dapat mengganti obat dokter dengan propolis. Jika ingin mengonsumsinya sebagai suplemen, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
3. Mungkin Membantu Menjaga Tekanan Darah
Manfaat lain yang cukup menarik adalah potensinya terhadap tekanan darah. Sebuah meta-analisis penelitian terkontrol menemukan adanya penurunan tekanan darah sistolik setelah suplementasi propolis, meskipun hasil pada tekanan darah diastolik tidak menunjukkan perubahan yang signifikan secara keseluruhan.
Temuan tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan. Tekanan darah dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola makan, berat badan, aktivitas fisik, stres, hingga penggunaan obat. Karena itu, propolis sebaiknya tidak dipandang sebagai solusi tunggal.
Pada akhirnya, propolis memang memiliki sejumlah potensi yang menarik. Kandungan polifenol dan senyawa bioaktif di dalamnya membuat bahan ini terus dipelajari, mulai dari aktivitas antioksidan dan antimikroba hingga kemungkinan pengaruhnya terhadap peradangan dan kesehatan metabolik.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: propolis bukan obat ajaib. Bukti penelitian manusia masih berkembang dan kualitas produknya dapat berbeda berdasarkan sumber tanaman, metode ekstraksi, serta komposisinya. Tinjauan ilmiah terbaru juga menekankan perlunya standardisasi produk dan lebih banyak uji klinis untuk memastikan manfaat serta keamanannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
***
Bagi orang yang ingin mengonsumsi propolis sebagai suplemen, perhatikan aturan pakai pada produk dan jangan berlebihan. Orang yang memiliki alergi terhadap produk lebah juga perlu berhati-hati. Dengan begitu, propolis dapat ditempatkan secara tepat sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan pengganti pengobatan yang sudah direkomendasikan tenaga kesehatan. [DW]





