BANYAK orang mengukur kelelakian dari tubuh yang kuat, otot yang kekar, atau penampilan yang gagah. Padahal, ukuran seorang lelaki dalam pandangan yang lebih mulia bukan terletak pada seberapa besar fisiknya, melainkan pada seberapa besar keberaniannya memikul amanah dan tanggung jawab.
Menjadi lelaki bukan sekadar tentang terlihat perkasa di hadapan manusia. Kekuatan sejati justru terlihat ketika ia mampu berdiri teguh menghadapi kesulitan, menafkahi keluarga dengan cara yang halal, menjaga kehormatan diri, serta menjadi pelindung bagi orang-orang yang Allah titipkan kepadanya. Keberanian bukan selalu tentang mengangkat suara, tetapi tentang kesanggupan berkata, “Biarkan aku yang bertanggung jawab.”
Baca Juga: Peran Penting Stasiun Cipendeuy di Jalur Selatan Pulau Jawa
Menjadi Lelaki Berarti Siap Memikul Amanah
Dalam kehidupan, setiap lelaki akan diuji dengan beban yang berbeda. Ada yang diuji dengan pekerjaan yang berat, ada yang diuji dengan ekonomi yang sempit, ada pula yang diuji dengan keluarga yang membutuhkan kesabaran lebih besar. Namun, justru di situlah nilai seorang lelaki dibentuk. Ia tidak lari dari tanggung jawab hanya karena keadaan sedang sulit, tetapi berusaha mencari jalan keluar sambil terus bertawakal kepada Allah.
Rasulullah mengajarkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya, seorang ayah adalah teladan bagi anak-anaknya. Kepemimpinan itu bukan tentang kuasa untuk memerintah, melainkan kesediaan melayani, melindungi, dan memberikan rasa aman.
Lelaki yang dewasa juga tidak malu mengakui kesalahan. Ia tahu bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan, tetapi bukti keberanian menghadapi ego sendiri. Ia mampu menahan amarah ketika emosi memuncak dan memilih menyelesaikan masalah dengan hikmah, bukan dengan kekerasan. Sebab keluarga yang kuat tidak dibangun oleh rasa takut, melainkan oleh kasih sayang dan saling menghormati.
Di zaman yang sering mengagungkan citra, menjadi lelaki sejati berarti berani menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Menepati janji, menjaga amanah, bekerja dengan jujur, serta hadir ketika keluarga membutuhkan adalah bentuk keperkasaan yang sesungguhnya. Mungkin tidak selalu mendapat tepuk tangan manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Setiap lelaki tentu memiliki kekurangan. Tidak ada suami, ayah, atau anak laki-laki yang sempurna. Namun, selama ia terus belajar memperbaiki diri, menerima nasihat dengan lapang dada, dan berusaha menjadi lebih baik setiap hari, ia sedang berjalan menuju kemuliaan akhlak.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena pada akhirnya, dunia tidak terlalu membutuhkan lelaki yang hanya kuat secara fisik. Dunia membutuhkan lelaki yang kuat imannya, lembut hatinya, teguh memegang amanah, dan berani bertanggung jawab atas setiap peran yang Allah percayakan kepadanya. Itulah kelelakian yang akan dikenang, bukan karena ototnya, tetapi karena manfaat dan keteladanannya bagi orang-orang di sekitarnya. [DW]
Sumber: Ustadz Bendri Jaisyurrahman





