KALIMANTAN memiliki sungai-sungai dan danau-danau besar. Antara lain, Sungai Barito, Kapuas, Mahakam, dan lainnya. Begitu pun dengan puluhan danau yang tersebar di sejumlah wilayah. Kini, sebagian besar sungai dan danau itu mengering tanpa air.
Setelah sekitar empat bulan tak turun hujan, keadaan perairan di Kalimantan mengering. Mulai dari sungai-sungai besar seperti Barito, Kapuas, dan Mahakam. Hingga, puluhan danau yang terhampar tanpa air.
Problematik karena Kering
Sungai di Kalimantan bukan sekadar sumber pengairan. Melainkan juga sebagai alat transportasi yang menghubungkan antar desa dan daerah. Tidak heran jika di sebagian wilayah Kalimantan, perahu justru menjadi transportasi yang efektif daripada mobil.
Bayangkan jika sungai-sungai besar seperti Barito, Kapuas, dan Mahakam kering. Tentu, akan menjadi problematika tersendiri untuk warganya. Belum lagi warga yang berprofesi sebagai nelayan, tentu hal ini akan menjadi masalah tersendiri.
Keindahan Danau Kering
Selain sungai, Kalimantan khususnya di Kaltim, banyak danau besar yang menjadi kawasan wisata. Antara lain, Danau Tanjung Sarai, Danau Semayang, dan lainnya.
Danau-danau di kawasan Kutai Kartanegara, Kaltim ini sangat luas, sekitar belasan ribu hektar. Masyarakat memanfaatkan kawasan ini di antaranya untuk wisata.
Pengunjungnya bukan hanya di wilayah Kalimantan saja, melainkan juga dari Jakarta bahkan mancanegara.
Ketika danau-danau itu kering, pengelola tidak menutup tempat itu. Hal ini karena pengunjung tetap banyak. Mereka ingin melihat sensasi dana luas yang tanpa air.
Seperti di danau Tanjung Sarai dan danau Semayang yang berlokasi di Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Air di dua danau ini kering.
Di danau Tanjung Sarai, bahkan masyarakat bisa mengendarai sepeda motor untuk merasakan sensasi mengelilingi isi danau yang tanpa air.
Di danau Semayang, keadaannya lebih unik lagi. Ketika airnya kering, dasar danau ditumbuhi rerumputan yang serba hijau. Para wisatawan ada yang berpiknik di kawasan ini.
Fenomena danau besar yang mengalami kekeringan ini bukan hal biasa. Justru, di sinilah uniknya yang dirasakan oleh para wisatawan, lokal dan mencanegara.
Di Kalimantan Barat, bahkan sebagian masyarakatnya ‘berwisata’ bareng di dasar sungai yang mengering. Mereka mendirikan tenda-tenda, ada pasar malam, lomba mencari ikan di genangan yang tersisa, dan seterusnya.
Rasanya sulit juga mengatakan kalau Elnino yang melanda saat ini sebagai bencana. Justru, fenomena unik ini menjadi momen berwisata keluarga. [Mh]


