AS melalui Trump menolak dinyatakan kalah dalam perang melawan Iran. Meskipun, kenyataannya sudah kalah telak. Kenapa? Apa karena sekadar gengsi, atau ada dampak lainnya.
Akhirnya, dunia bisa menyaksikan bahwa negara super power seperti AS tak sekuat yang digembar-gemborkan. Tak sehebat yang digambarkan dalam film-film Hollywood.
Namun begitu, Trump dan jajarannya, tak mau mengakui kekalahan itu. Mereka memilih jalan ‘palsu’: mundur teratur, kemudian mengalihkan isu lain.
Arti dan Dampak dari Kekalahan AS di Teluk
Apa sebenarnya arti atau dampak dari kekalahan AS di teluk? Apakah hanya karena gengsi yang hancur lebur, atau ada yang lebih besar dari itu?
Pertama, hegemoni AS di negara kaya minyak lenyap.
Kawasan teluk dikelilingi negara-negara kaya minyak. Seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Quwait, Oman, Bahrain, dan lainnya. Sejak awal tahun 1900-an, kawasan itu menjadi ‘sapi perahan’ AS. Kini, mereka mulai berpikir ulang perlunya keberadaan AS.
Yang sudah melakukan itu adalah Qatar. Beberapa hari lalu, para petinggi Qatar sudah melakukan kunjungan ke Iran untuk melakukan ‘hubungan baru’. Begitu pun dengan Oman.
Bagi Iran, posisi negaranya tidak ingin menggantikan apa yang dilakukan AS selama ini terhadap negara-negara teluk. Iran menyatakan bahwa selat Hormuz bebas untuk pelayaran dagang dunia. Bukan menjadi ‘sapi perahan’ AS.
Kedua, hilangnya ‘benteng’ Israel di kawasan Arab.
Israel itu berada di Palestina yang merupakan masih dalam kawasan negara Arab dan Islam. Mereka merampok dan menguasai wilayah itu secara zalim.
Untuk menjamin keamanan Israel, maka AS ditugaskan Israel untuk membuat benteng pengaman di kawasan itu. Mulai dari Yordania, Mesir, Suriah, Arab Saudi, Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait.
Kini, benteng-benteng itu hancur oleh serangan selama berbulan-bulan oleh Iran. Nyaris, tak ada lagi benteng Israel di Timur Tengah.
Dari fakta inilah, boleh jadi, Turki mulai berani mengambil posisi berhadap-hadapan dengan Isreal di wilayah Suriah, yang berbatasan langsung dengan Israel.
Ketiga, kemerdekaan Palestina dan kebebasan Lebanon kian dekat.
‘Biang kerok’ dari kekacauan di Palestina dan Lebanon sebenarnya satu negara: Israel. Termasuk juga kekacauan di wilayah sekitarnya seperti Yaman, Sudan, Libia, Irak, dan Suriah.
Terkhusus Palestina, selama Israel merasa nyaman dan aman menjajah Palestina, selama itu pula kemerdekaan Palestina hanya sekadar mimpi. Dan kini, kenyamanan dan keamanan Israel mulai goyah karena AS ‘keok’ dari Iran.
Kini, giliran negara-negara muslim yang memiliki kekuatan militer seperti Turki, Mesir, Pakistan bisa menggabungkan kekuatan untuk ‘mengancam’ Israel agar pergi dari Palestina.
Bukan sebaliknya, menjadi antek-antek AS untuk melindungi Israel. Semoga bukan itu yang akan terjadi. [Mh]


