AKU jika diucapkan sebagai pengakuan menjadi hal biasa. Tapi, tidak begitu jika sebagai kebanggaan.
Al-Qur’an yang mulia menggambarkan tiga sosok buruk dalam sejarah tentang ‘aku’. Ketiganya adalah yang merasa sangat kuat, sangat berkuasa, dan sangat kaya.
Sosok ‘aku’ pertama adalah apa yang dinyatakan musuh umat manusia, yaitu Iblis. Raja setan ini mengatakan, “Aku lebih baik dari Adam. Engkau (Allah subhanahu wata’ala) ciptakanku dari api, sementara Adam dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)
Iblis menunjukkan ‘aku’-nya sebagai sosok yang lebih mulia dari Nabi Adam alaihissalam. Ia lupa kalau sedang berbicara dengan Yang Maha Segalanya.
Sosok ‘aku’ kedua adalah apa yang dinyatakan musuh Nabi Musa alaihissalam. Yaitu, Fir’aun. Raja zalim ini mengatakan, “Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi!” (QS. An-Nazi’at: 24)
Allah subhanahu wata’ala menenggelamkan Firaun dan semua kebanggaannya. Bahkan, jasad hinanya masih bisa disaksikan hingga kini, sebagai pelajaran untuk mereka yang menganggap bisa setara dengan Tuhan.
Sosok ‘aku’ ketiga adalah apa yang dinyatakan orang paling kaya di masa Nabi Musa alaihissalam, yaitu Qarun. Hingga kini, hartanya masih menjadi impian banyak orang.
“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasas: 78)
Allah subhanahu wata’ala menenggelamkan Qarun bersama hartanya kedalam perut bumi.
**
Di balik kebanggaan tentang ‘aku’ ada penyakit jiwa yang paling berbahaya. Yaitu, sombong. Penyakit ini menjadikan si empunya menolak nilai kebenaran dari Allah dan merendahkan manusia.
Mungkin saja, kita orang yang paling berjasa. Mungkin saja, kita orang yang paling pandai. Mungkin saja, kita orang yang paling kaya. Dan, mungkin saja, kita orang yang paling berkuasa.
Namun, semua tentang ‘paling-paling’ itu tak seberat butiran debu di sisi Allah subhanahu wata’ala. Di atas langit, ada lagi langit-langit yang lebih tinggi.
Rendahkanlah hati kita, seberapa pun tingginya orang menilai tentang kita. [Mh]





