ATIKAH binti Khalid al-Khuza’iyyah lebih dikenal dengan kunyah Ummu Ma’bad. Ia merupakan seorang perempuan dari Bani Khuza’ah yang tinggal di daerah Qudaid, sebuah wilayah yang berada di jalur antara Makkah dan Madinah. Ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki sifat baik dan suka membantu para musafir yang melewati tempat tinggalnya.
Nama Ummu Ma’bad kemudian menjadi bagian dari sejarah hijrah Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw. meninggalkan Makkah menuju Madinah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq, Amir bin Fuhairah, dan Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan, rombongan tersebut singgah di tempat Ummu Ma’bad. Saat itu kondisi perjalanan cukup berat dan masyarakat sedang mengalami masa kekeringan.
Baca Juga: Sedekah Diam-diam yang Menjadi Naungan di Padang Mahsyar
Kisah Atikah binti Khalid yang Membantu Banyak Musafir dalam Masa Kekeringan
Rasulullah dan para sahabat meminta makanan atau minuman. Ummu Ma’bad sebenarnya ingin memberikan hidangan kepada para tamunya, tetapi persediaan yang dimilikinya sangat terbatas. Tidak ada makanan yang cukup untuk disuguhkan. Di dalam kemahnya terdapat seekor kambing yang tampak lemah dan tidak menghasilkan susu. Rasulullah saw. kemudian meminta izin untuk memerahnya. Dengan izin Allah, kambing tersebut mengeluarkan susu hingga memenuhi wadah. Rasulullah saw. dan para sahabat meminumnya, kemudian Ummu Ma’bad juga mendapatkan bagian. Kisah ini tercatat dalam sejumlah karya sirah dan hadis.
Peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan kesan tentang sebuah kejadian luar biasa. Setelah suaminya, Abu Ma’bad, kembali, Ummu Ma’bad menceritakan kedatangan seorang laki-laki mulia yang baru saja singgah di tempat mereka. Ketika diminta menggambarkan sosok tersebut, ia memberikan gambaran yang sangat indah mengenai Rasulullah saw. Ia menggambarkan wajah Nabi yang bercahaya, penampilan yang rupawan, suara yang lembut, perkataan yang jelas, serta wibawa yang terpancar ketika beliau berbicara.
Kesaksian Ummu Ma’bad menjadi salah satu gambaran yang terkenal mengenai sifat fisik dan kepribadian Rasulullah saw. Yang menarik, kesaksian tersebut muncul dari pertemuan yang berlangsung singkat. Ia bukan orang yang hidup bertahun-tahun bersama Nabi, tetapi pengamatannya begitu tajam sehingga mampu menangkap banyak sisi dari pribadi beliau.
Kisah Atikah binti Khalid juga mengajarkan pentingnya keramahan kepada orang yang sedang melakukan perjalanan. Dalam kondisi sederhana sekalipun, ia tetap memiliki keinginan untuk melayani tamu. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari banyaknya harta, tetapi juga dari kesediaannya berbagi dan memuliakan orang lain.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dari kisah Ummu Ma’bad, kita dapat belajar bahwa seseorang yang hidup sederhana pun dapat meninggalkan jejak besar dalam sejarah Islam. Namanya dikenang bukan karena kekayaan atau kedudukan, melainkan karena satu peristiwa dalam perjalanan hijrah dan kesaksiannya terhadap Rasulullah saw. Kisahnya mengingatkan bahwa pertemuan singkat dengan orang saleh dapat meninggalkan pelajaran yang panjang bagi generasi setelahnya. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





