NAMA Yusairah binti Yasir mungkin tidak sepopuler shahabiyah launnya. namun beliau meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam: kebiasaan berdzikir dengan penuh istiqamah hingga Rasulullah sendiri menjadikannya teladan.
Yusairah dikenal sebagai seorang wanita Anshar yang memiliki kecintaan besar kepada ibadah. Ia meriwayatkan salah satu hadis penting tentang dzikir yang hingga kini diamalkan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Melalui dirinya, kita belajar bahwa amal yang tampak sederhana dapat memiliki nilai yang sangat agung di sisi Allah.
Baca Juga: Mengenal Ummu Waraqah, Perempuan Penghafal Al-Qur’an yang Dijuluki Syahidah oleh Rasulullah
Yusairah binti Yasir, Shahabiyah Ahli Dzikir yang Jarinya Menjadi Saksi Kebaikan
Perempuan yang selalu menghiasi lisannya dengan dzikir
Suatu hari Rasulullah melihat Yusairah dan beberapa perempuan sedang menghitung bacaan tasbih menggunakan jari-jari mereka. Beliau tidak melarang kebiasaan itu. Justru beliau memberikan tuntunan agar mereka memperbanyak bacaan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir serta menghitungnya dengan ruas-ruas jari.
Rasulullah bersabda bahwa jari-jari itu akan dimintai kesaksian pada hari kiamat. Karena itulah, beliau menganjurkan agar jari digunakan sebagai alat menghitung dzikir, sebab setiap ruasnya kelak menjadi saksi atas amal yang dilakukan.
Keistimewaan yang sering terlupakan
Kisah Yusairah mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak selalu diukur dari banyaknya harta atau besarnya peran di hadapan manusia. Ia tidak dikenal sebagai panglima perang atau tokoh politik, tetapi dikenang karena konsistensinya menjaga hati melalui dzikir.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia menunjukkan bahwa seorang muslimah dapat menjadikan setiap waktu sebagai ladang pahala. Saat menunggu, berjalan, atau menyelesaikan pekerjaan rumah, lisannya tetap basah mengingat Allah. Inilah bentuk ibadah yang ringan dilakukan, tetapi berat timbangannya.
Dzikir juga bukan sekadar ucapan berulang. Para ulama menjelaskan bahwa hakikat dzikir adalah menghadirkan kesadaran akan kebesaran Allah sehingga hati menjadi lebih tenang, sabar, dan mudah bersyukur. Yusairah telah mempraktikkan hal itu jauh sebelum konsep kesehatan mental dikenal pada masa kini.
Jari yang akan berbicara
Salah satu pelajaran paling menyentuh dari hadis yang diriwayatkan Yusairah adalah gambaran tentang hari kiamat. Kelak, bukan hanya lisan yang dimintai pertanggungjawaban, tetapi anggota tubuh juga akan menjadi saksi. Jari-jari yang digunakan untuk menghitung tasbih akan berbicara tentang ketaatan pemiliknya.
Pesan ini begitu mendalam. Tangan yang hari ini memegang gawai dapat menjadi saksi atas apa yang kita lakukan: apakah lebih banyak menggulir media sosial, atau juga digunakan untuk membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berdzikir. Yusairah seakan mengingatkan bahwa setiap ruas jari memiliki kesempatan menjadi saksi yang membela kita di hadapan Allah.
Teladan bagi muslimah masa kini
Di tengah kehidupan yang serba cepat, warisan Yusairah binti Yasir terasa semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu membutuhkan tempat khusus atau waktu yang panjang. Dzikir dapat menjadi teman dalam perjalanan, saat memasak, bekerja, maupun sebelum tidur.
Istiqamah adalah inti dari keteladanannya. Amal kecil yang dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesekali. Karena itu, membiasakan membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan La ilaha illallah setiap hari merupakan langkah sederhana untuk meneladani shahabiyah mulia ini.
Semoga Allah menghimpunkan kita bersama orang-orang yang lisannya senantiasa hidup dengan dzikir, sebagaimana Yusairah binti Yasir yang namanya terus dikenang melalui hadis yang ia riwayatkan. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





