PERNAHKAH kita menyadari bahwa makanan yang sangat kita sukai biasanya terasa paling nikmat pada suapan pertama? Misalnya semangkuk soto yang sejak tadi dibayangkan. Ketika suapan pertama masuk ke mulut, rasanya begitu menggugah selera. Kuahnya hangat, bumbunya terasa pas, dan rasanya ingin terus menikmatinya.
Namun, setelah beberapa suapan, sensasi itu perlahan berubah. Suapan kedua masih terasa enak, begitu juga suapan berikutnya. Tetapi kenikmatannya tidak lagi sama seperti saat pertama kali mencicipinya. Hal sederhana seperti makan ternyata bisa mengajarkan sesuatu tentang kehidupan.
Baca Juga: Rahasia dan Keutamaan Surah Al-Fath, Mengajarkan Arti Kemenangan yang Sebenarnya
Kadang Allah Mengurangi Rezeki Bukan untuk Menghukum, tapi Agar Kita Kembali Menghargai Nikmat
Kita sering mengira bahwa semakin banyak memiliki sesuatu, semakin besar pula kebahagiaan yang akan dirasakan. Ketika punya uang lebih banyak, kita ingin membeli lebih banyak. Saat memiliki makanan berlimpah, kita ingin mencoba semuanya. Ketika mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkan, kita merasa sangat bahagia. Tetapi setelah memilikinya cukup lama, rasa bahagia itu perlahan menjadi biasa.
Inilah mengapa manusia perlu belajar mensyukuri nikmat yang ada, bukan hanya mengejar nikmat yang belum dimiliki.
Postingan tersebut mengingatkan bahwa mungkin ada saat ketika Allah mengurangi rezeki yang kita terima. Bukan berarti Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi, ada pelajaran yang ingin disampaikan melalui keadaan tersebut.
Ketika biasanya bisa membeli makanan apa saja, kemudian harus memilih dengan lebih bijak, kita mungkin justru kembali merasakan nikmat makanan sederhana. Sepiring nasi dengan lauk seadanya bisa terasa begitu berharga ketika sebelumnya kita terbiasa makan berlebihan.
Begitu pula dengan rezeki. Saat semuanya tersedia, kita terkadang lupa menghargainya. Kita menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa, rumah sebagai hal yang sudah semestinya ada, pekerjaan sebagai rutinitas, bahkan kehadiran keluarga sebagai sesuatu yang tidak perlu disyukuri setiap hari.
Padahal, tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita selamanya. Ada kalanya Allah memberikan banyak agar kita belajar bersyukur. Ada pula masa ketika Allah memberikan lebih sedikit agar kita belajar sabar, merasa cukup, dan memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari banyaknya sesuatu yang kita miliki.
Karena itu, jangan hanya bersyukur ketika mendapatkan rezeki besar. Rezeki kecil yang hadir hari ini juga layak dihargai. Makanan yang tersedia di meja, tubuh yang masih sehat, kesempatan berkumpul bersama orang-orang tersayang, hingga waktu untuk beristirahat merupakan nikmat yang sering luput dari perhatian.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar lebih banyak, sampai lupa menikmati apa yang sudah ada.
Padahal, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa dalam kita mampu merasakan dan mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan. Sebab terkadang, sedikit tetapi disyukuri justru terasa jauh lebih nikmat daripada banyak tetapi selalu dianggap kurang. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Oemar Mita





