NAMA Hudzafah binti Harits mungkin tidak sepopuler Khadijah binti Khuwailid atau Aisyah RA. Padahal, perempuan yang juga dikenal dengan nama Asy-Syaima ini memiliki kedekatan khusus dengan Rasulullah SAW. Ia merupakan putri dari pasangan Al-Harits bin Abdul Uzza dan Halimah As-Sa’diyah, perempuan yang menyusui Rasulullah ketika beliau masih kecil. Dengan demikian, Hudzafah adalah saudari Rasulullah SAW dari hubungan persusuan.
Hudzafah tumbuh di lingkungan Bani Sa’d, sebuah kabilah yang dikenal dengan kehidupan pedesaannya. Ketika Rasulullah SAW masih kecil dan tinggal bersama keluarga Halimah, Hudzafah turut merawat dan menemani beliau. Riwayat yang dinukil dalam sejumlah kitab sejarah menyebutkan bahwa ia ikut mengasuh dan bermain bersama Muhammad kecil.
Baca Juga: Khaulah binti Hakim, Shahabiyah yang Peka dan Aktif Membantu Rasulullah
Kisah Teladan Hudzafah Binti Harits, Saudari Rasulullah dari Persusuan
Kedekatan tersebut membuat masa kecil Rasulullah SAW di perkampungan Bani Sa’d tidak hanya diwarnai kasih sayang Halimah As-Sa’diyah, tetapi juga perhatian dari saudari sepersusuannya. Hubungan yang terjalin sejak kecil itu kelak menjadi salah satu bagian mengharukan dalam perjalanan hidup Hudzafah.
Salah satu kisah yang sering diceritakan tentang Hudzafah adalah doanya untuk Muhammad kecil. Ia berharap anak yang berada dalam pengasuhannya itu tumbuh menjadi sosok yang memiliki kedudukan mulia dan mendapatkan pertolongan Allah. Kisah tersebut menggambarkan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya sekaligus harapan baik yang ia tanamkan sejak Rasulullah masih belia.
Pertemuan Setelah Bertahun-Tahun Berpisah
Waktu terus berjalan. Rasulullah SAW kemudian tumbuh dewasa, menerima wahyu, dan berdakwah menyebarkan Islam. Sementara itu, Hudzafah tetap berada di lingkungan Bani Sa’d.
Pertemuan mereka setelah bertahun-tahun berpisah menjadi bagian menarik dari kisah hidupnya. Peristiwa tersebut terjadi setelah Perang Hunain, ketika sebagian anggota Bani Sa’d berada di antara pihak yang berhadapan dengan kaum Muslimin. Hudzafah termasuk orang yang tertawan. Karena waktu telah berlalu begitu lama, tidak semua orang langsung mengenalinya. Ia kemudian menjelaskan bahwa dirinya adalah saudari Rasulullah SAW dari persusuan.
Ketika kabar tersebut sampai kepada Rasulullah, hubungan persusuan itu mendapat penghormatan. Kisah ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW tetap mengingat ikatan keluarga, meskipun hubungan tersebut terbentuk melalui persusuan dan telah terpisah selama bertahun-tahun.
Dari Hudzafah binti Harits, ada pelajaran penting tentang kasih sayang yang tidak dibatasi waktu. Ia pernah menjadi bagian dari masa kecil Rasulullah, merawat dan bermain bersamanya ketika beliau belum menjadi seorang nabi. Bertahun-tahun kemudian, kenangan dan hubungan tersebut tetap memiliki tempat.
Kisah Hudzafah juga mengingatkan bahwa tidak semua perempuan yang berjasa dalam sejarah Islam berada di garis depan peperangan atau menjadi tokoh besar dalam pemerintahan. Ada pula perempuan yang jasanya hadir melalui kasih sayang, pengasuhan, dan perhatian kepada Rasulullah ketika masih kecil.
Menariknya, nama Hudzafah sendiri memiliki beberapa variasi dalam sumber sejarah. Sejumlah ulama menyebutnya sebagai Hudzafah, sementara ia lebih dikenal dengan nama Asy-Syaima. Ibnu Ishaq menyebut Hudzafah sebagai salah satu saudara Rasulullah dari persusuan dan mengatakan bahwa nama Asy-Syaima lebih dikenal di kalangan kaumnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisahnya memang tidak panjang jika dibandingkan dengan perjalanan hidup para sahabat lainnya. Namun, dari cerita sederhana tersebut kita bisa belajar bahwa merawat, menyayangi, dan memberikan perhatian kepada seseorang juga dapat menjadi bagian dari amal yang besar. Hudzafah telah menjadi bagian dari masa kecil Rasulullah SAW, dan kenangan itu tidak hilang meskipun waktu telah memisahkan mereka. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





