PSORIASIS merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dapat memengaruhi kondisi kulit sekaligus kualitas hidup penderitanya. Secara global, psoriasis diperkirakan memengaruhi setidaknya 60 juta orang.
Sementara itu, data epidemiologi psoriasis pada tingkat nasional di Indonesia masih relatif terbatas, sehingga penelitian mengenai pendekatan perawatan yang dapat mendukung kondisi kulit dengan psoriasis terus menjadi area yang relevan untuk dikembangkan.
Dalam konteks tersebut, sebuah evaluasi klinis yang dipresentasikan pada PIT XXI PERDOSKI 2026 di Yogyakarta pada 7 Agustus 2026 menyoroti potensi pendekatan berbasis microbiome dalam mendukung kondisi kulit dengan psoriasis vulgaris.
Evaluasi terhadap LABORÉ BiomeRepair™ TopiCalm Cream menunjukkan peningkatan hidrasi kulit secara progresif, mencapai 2,05 kali setelah 14 hari dan 5,26 kali setelah 28 hari.
Studi yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Cita Rosita S. Prakoeswa, Sp. DVE., Subsp. DAI., FINSDV, FAADV, M.A.R.S., dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut mengevaluasi efektivitas BiomeRepair™ TopiCalm Cream pada psoriasis vulgaris melalui perbandingan dengan pelembap konvensional. Evaluasi juga melihat perubahan tingkat keparahan penyakit berdasarkan Psoriasis Area and Severity Index (PASI).
Baca juga: Wardah A.M. Club Bawa Energi Baru di Pagi Hari dengan Perlindungan Kulit dari Paparan UV
Penyakit Psoriasis Pengaruhi Kondisi Kulit Sekaligus Kualitas Hidup Penderitanya
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan BiomeRepair™ TopiCalm Cream mengalami penurunan skor PASI secara signifikan dibandingkan kelompok non-microbiome.
Di sisi lain, hidrasi kulit meningkat secara progresif, dengan peningkatan mencapai 2,05 kali setelah 14 hari dan 5,26 kali setelah 28 hari. Temuan tersebut menunjukkan potensi pendekatan berbasis microbiome dalam mendukung kondisi kulit yang kering, meradang, dan mengalami gangguan fungsi skin barrier.
“Pada psoriasis, kami menghitung PASI lengan karena hanya diberikan pada area tersebut. Kalau kita lihat ini semuanya turun signifikan pada kelompok microbiome. Kemudian pada hidrasi, tampak pada kelompok microbiome jauh lebih meningkat dibandingkan non-microbiome,” ujar Prof. Cita.
Psoriasis merupakan kondisi inflamasi kronis yang dapat disertai dengan kulit kering dan gangguan fungsi skin barrier. Dalam kondisi tersebut, menjaga hidrasi kulit dan mendukung fungsi skin barrier menjadi bagian penting dalam perawatan kulit.
Sejalan dengan perkembangan ilmu dermatologi, microbiome kulit juga menjadi salah satu area yang terus diteliti untuk memahami hubungan antara keseimbangan mikroorganisme pada kulit dengan kondisi dan fungsi kulit.
LABORÉ mengembangkan teknologi 3X-SYNBIOTICS dengan memadukan komponen pendukung microbiome, termasuk postbiotic, prebiotic, dan paraprobiotic, dengan bahan aktif tertentu.
Teknologi tersebut dikembangkan berdasarkan lebih dari 25 tahun riset mengenai microbiome dan ditujukan untuk mendukung fungsi biologis alami kulit serta keseimbangan microbiome.
BiomeRepair™ TopiCalm Cream merupakan pelembap nonsteroid yang ditujukan untuk kulit sangat sensitif, termasuk kulit yang rentan mengalami eksem dan psoriasis serta kulit dengan gangguan fungsi skin barrier.
Formulanya memadukan Encapsulated Microbiome Technology dengan Vitamin B12 untuk membantu meredakan tanda iritasi sekaligus mendukung perbaikan fungsi skin barrier.
Melalui evaluasi klinis tersebut, LABORÉ terus mengeksplorasi penerapan riset microbiome dalam perawatan kulit dengan berbagai kebutuhan. Temuan ini menjadi bagian dari upaya menerjemahkan perkembangan ilmu dan teknologi microbiome ke dalam solusi perawatan kulit yang didukung oleh evaluasi klinis. [Din]





