DALAM perjalanan menjadi seorang Muslim yang lebih baik, ada satu hal yang sering luput diperhatikan: bukan hanya seberapa banyak amal yang kita kerjakan, tetapi bagaimana keadaan hati setelah melakukannya. Seseorang bisa saja rajin beribadah, banyak bersedekah, gemar membantu orang lain, dan berusaha melakukan berbagai kebaikan. Namun, semua itu tetap membutuhkan kewaspadaan agar tidak berubah menjadi rasa bangga terhadap diri sendiri.
Pesan yang disampaikan dalam sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada ulama terdahulu mengingatkan kita untuk lebih takut ketika mulai merasa amal yang dilakukan sudah banyak. Sebab, perasaan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi ujub, yaitu merasa kagum terhadap diri sendiri karena amal atau kebaikan yang telah dilakukan.
Baca Juga: Khairah binti Abi Hadrad, Shahabiyah Cerdas yang Dikenal Tekun Beribadah
Jangan Terlalu Bangga dengan Amal, Bisa Jadi di Situlah Ujian Hati Bermula
Ibadah seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin mudah meremehkan orang lain. Ketika seseorang mulai menghitung-hitung kebaikannya sendiri dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan orang lain, saat itulah hati perlu segera diperiksa.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah banyak menjelaskan pentingnya menjaga hati setelah melakukan amal. Seorang Muslim tidak seharusnya merasa aman hanya karena telah melakukan banyak ibadah. Justru setelah beramal, ia perlu berharap agar amal tersebut diterima Allah dan tidak terjangkit penyakit hati yang dapat merusak pahalanya.
Sikap seperti ini bukan berarti seseorang harus meremehkan amal yang telah dikerjakannya. Sebaliknya, kita tetap dianjurkan bersyukur ketika Allah memberikan kesempatan untuk berbuat baik. Hanya saja, rasa syukur tersebut perlu disertai kerendahan hati dan kesadaran bahwa kemampuan untuk beribadah pun merupakan nikmat dari Allah.
Cobalah sesekali bertanya kepada diri sendiri: apakah ibadah yang dilakukan benar-benar mendekatkan diri kepada Allah? Apakah setelah bersedekah kita menjadi lebih penyayang? Apakah setelah rajin mengikuti kajian kita menjadi lebih lembut kepada keluarga? Apakah semakin banyak ilmu membuat kita semakin rendah hati?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena ukuran keberhasilan ibadah bukan sekadar banyaknya aktivitas yang terlihat. Amal yang baik semestinya memberikan pengaruh terhadap akhlak dan perilaku seseorang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena itu, jangan terlalu cepat merasa puas dengan amal yang telah dilakukan. Perbanyak istighfar, berdoa agar amal diterima, dan terus berusaha memperbaiki niat. Jangan sampai kebaikan yang seharusnya menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah justru berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Pada akhirnya, yang perlu ditakuti bukan hanya ketika amal kita sedikit. Ada ketakutan lain yang tidak kalah penting, yaitu ketika hati mulai merasa amal kita sudah banyak. Sebab, saat hati merasa sudah cukup baik, seseorang bisa berhenti mengevaluasi dirinya. Padahal, perjalanan memperbaiki diri adalah proses yang membutuhkan kerendahan hati sepanjang hidup. [DW]





