DI ANTARA keindahan kehidupan para sahabat Rasulullah adalah bagaimana mereka menjaga adab ketika berinteraksi satu sama lain. Mereka tidak menjadikan ilmu, usia, nasab, maupun kedudukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Justru, semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin tampak pula kerendahan hati dan penghormatannya kepada orang lain.
Salah satu kisah yang menggambarkan akhlak tersebut terjadi antara Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini menunjukkan bagaimana seorang sahabat yang memiliki kedudukan sebagai keluarga Nabi memuliakan seorang ulama, sementara sang ulama juga memberikan penghormatan kepada keluarga Rasulullah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Penambah Gizi, Ini Manfaat Daun Kelor yang Jarang Diketahui
Beginilah Para Sahabat Rasulullah Saling Memuliakan Satu dengan yang Lain
Dikisahkan, setelah Zaid bin Tsabit selesai melaksanakan salat jenazah, seseorang mendekatkan kendaraan kepadanya agar ia dapat menaikinya. Pada saat itu, Ibnu Abbas datang dan membantu menyediakan pijakan kaki atau sanggurdi untuk memudahkan Zaid naik ke kendaraannya.
Zaid bin Tsabit kemudian berkata kepada Ibnu Abbas agar tidak perlu melakukan hal tersebut. Namun Ibnu Abbas menjawab dengan sebuah kalimat yang menunjukkan betapa tinggi penghormatannya kepada orang berilmu. Ia mengatakan bahwa demikianlah cara mereka memperlakukan para ulama.
Jawaban Ibnu Abbas tersebut memperlihatkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Zaid bin Tsabit bukan sekadar seorang sahabat senior. Ia dikenal sebagai salah satu pencatat wahyu dan termasuk sahabat yang memiliki pemahaman mendalam dalam ilmu agama. Rasulullah juga memberikan pujian atas keilmuannya dalam bidang faraidh atau ilmu waris.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Menariknya, penghormatan tersebut tidak membuat Zaid bin Tsabit merasa dirinya lebih tinggi. Justru setelah mendengar sikap Ibnu Abbas, Zaid mencium tangan Ibnu Abbas sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian menyampaikan bahwa demikianlah mereka diperintahkan untuk memperlakukan keluarga Rasulullah.
Terlihat jelas adanya sikap saling memuliakan. Ibnu Abbas menghormati Zaid karena ilmu dan kedudukannya sebagai ulama sahabat. Sementara Zaid menghormati Ibnu Abbas karena ia merupakan keluarga Rasulullah sekaligus seorang sahabat yang memiliki kedudukan mulia.
Ibnu Abbas sendiri dikenal sebagai sahabat yang memiliki keluasan ilmu. Ia bahkan mendapat julukan Al-Bahr, yang berarti “lautan”, karena kedalaman ilmunya. Rasulullah juga pernah mendoakannya agar Allah memberikan pemahaman terhadap agama dan ilmu tafsir.
Kisah tersebut memberikan pelajaran penting bagi kehidupan umat Islam saat ini. Perbedaan usia, latar belakang, kedudukan, atau keilmuan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan. Orang yang berilmu selayaknya dihormati, sementara orang yang memiliki kedudukan mulia juga hendaknya diperlakukan dengan penuh adab.
Para sahabat tidak sibuk mencari kesalahan untuk menjatuhkan kehormatan saudaranya. Mereka justru berlomba memberikan penghormatan dan pelayanan kepada orang yang memang layak dimuliakan.
Inilah salah satu akhlak salaf yang patut direnungkan. Kemuliaan seseorang tidak terlihat dari seberapa sering ia meninggikan dirinya, tetapi dari bagaimana ia mampu menghormati orang lain.
Semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin lembut pula akhlaknya. Dan semakin mulia kedudukannya, seharusnya semakin rendah hati sikapnya. Para sahabat mengajarkan bahwa menjaga kehormatan sesama Muslim jauh lebih indah daripada sibuk mencari kekurangan dan menjatuhkan satu sama lain. [DW]
Sumber: Ustadz Farid Nu’man





