TIDAK semua sahabat Rasulullah SAW dikenal melalui banyak riwayat atau kisah panjang yang tercatat dalam sejarah. Sebagian lainnya justru hadir dalam catatan sejarah melalui kehidupan keluarga, keteguhan iman, dan peristiwa-peristiwa penting yang mereka lalui. Salah satunya adalah Zainab binti Al-Awwam, seorang sahabiyah dari keluarga Quraisy yang memiliki hubungan erat dengan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Islam.
Zainab merupakan putri Al-Awwam bin Khuwailid dari Bani Asad, Quraisy. Ia juga dikenal sebagai saudara perempuan Az-Zubair bin Al-Awwam, salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam sejumlah kitab biografi sahabat, Zainab disebut sebagai seorang perempuan yang telah memeluk Islam dan hidup melewati masa Rasulullah SAW hingga periode setelahnya.
Baca Juga: Kisah Ali bin Abi Thalib yang Memuliakan Seorang Lansia, Pelajaran Indah tentang Akhlak dan Adab
Zainab Binti Al-Awwam, Shahabiyah yang Menjadi Saksi Perjalanan Islam di Keluarga Quraisy
Dalam kehidupan rumah tangga, Zainab menikah dengan Hakim bin Hizam, seorang tokoh Quraisy yang juga dikenal dalam sejarah Islam. Dari pernikahan tersebut, Zainab menjadi ibu bagi beberapa anak, di antaranya Abdullah, Khalid, Yahya, Syaibah, dan Fakhitah. Keterangan mengenai keluarganya ini antara lain dinukil oleh Ibnu Hajar dari Al-Zubair bin Bakkar dalam Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah.
Menariknya, Zainab juga dikenal sebagai seorang perempuan yang memiliki kemampuan dalam bidang sastra dan syair. Tidak banyak sahabiyah yang kisah kehidupannya sampai kepada kita melalui karya sastra. Namun, Zainab meninggalkan jejak melalui syair ratapan yang ia ucapkan setelah kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Salah satu peristiwa berat dalam kehidupannya terjadi ketika putranya, Abdullah bin Hakim, terbunuh dalam peristiwa Perang Jamal. Zainab kemudian meratapinya melalui syair. Dalam syair tersebut, ia juga menyebut saudaranya, Az-Zubair bin Al-Awwam. Riwayat tentang peristiwa ini dicatat oleh Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah, sementara sumber biografi lainnya juga menyebut Zainab sebagai sahabiyah sekaligus penyair dari Quraisy.
Kisah Zainab menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam sejarah Islam tidak selalu berbentuk keterlibatan dalam medan peperangan atau penyampaian hadis dalam jumlah besar. Ada pula perempuan yang meninggalkan jejak melalui keluarga, keteguhan iman, serta kemampuan menyampaikan perasaan dan pandangan melalui bahasa.
Kehidupan Zainab juga memperlihatkan bahwa menjadi bagian dari keluarga besar Quraisy tidak otomatis membuat perjalanan seseorang bebas dari ujian. Ia mengalami kehilangan orang-orang terdekat dan harus menghadapi masa-masa penuh gejolak dalam sejarah umat Islam. Namun, namanya tetap tercatat sebagai seorang perempuan yang telah beriman dan hidup dalam generasi awal Islam.
Dari kisahnya, kita dapat belajar bahwa setiap Muslim memiliki kesempatan meninggalkan jejak kebaikan, meskipun tidak selalu dikenal luas. Zainab binti Al-Awwam mungkin tidak memiliki biografi sepanjang sebagian sahabat lainnya, tetapi catatan tentang dirinya cukup untuk menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari generasi perempuan yang menyaksikan perjalanan awal Islam.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah para sahabiyah seperti Zainab penting untuk terus dipelajari. Bukan sekadar untuk mengenal nama-nama perempuan di masa Rasulullah SAW, tetapi juga untuk memahami bahwa sejarah Islam dibangun oleh banyak pribadi dengan peran yang beragam. Dari mereka, generasi berikutnya dapat belajar tentang iman, keluarga, ketabahan menghadapi kehilangan, dan bagaimana seseorang tetap meninggalkan nama baik di tengah perjalanan hidup yang penuh ujian.
Sumber: Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





