TUJUAN itu membimbing langkah kita agar tidak asal memilih rute jalan. Karena jika salah memilih jalan, tujuan tak akan pernah ditemukan.
Seorang ibu berkeras hati untuk bisa sampai ke pasar. Tapi, ia tidak tahu persis rute jalan mana yang menuju pasar.
“Pak, saya mau tanya. Kalau arah ke pasar lewat mana, ya?” tanya si ibu ke seorang bapak yang ia temui di jalan.
“Oh, ibu lurus aja dari sini. Pasarnya masih sekitar 1 kilo lagi,” jawab orang itu.
Ibu itu berpikir sejenak, dan ia pun kembali berjalan. Anehnya, ia hanya berjalan lurus sebentar kemudian berbelok ke arah kanan.
Akhirnya, si ibu bingung lagi: arah ke pasar itu melalui jalan yang mana, ya? Ujar si ibu dalam hatinya.
“Dik, kalau jalan ke arah pasar yang mana, ya?” ucap si ibu itu lagi ke seorang anak muda yang ia temui.
“Oh, ibu salah jalan. Ibu balik lagi ke arah pertigaan. Setelah itu, ibu belok kanan dan terus lurus. Nanti sekitar 1 kilo ibu akan ketemu pasarnya,” ungkap si anak muda.
Ibu itu mengangguk. Ia memang berjalan ke arah pertigaan, seperti yang diarahkan. Tapi, dari situ, ia tidak berjalan lurus, melainkan belok ke arah kiri.
Tentu saja, si ibu tidak juga menemui pasar yang ia tuju. Akhirnya, ia bertanya lagi ke seorang ibu tua: “Nek, kalau ke pasar ke arah mana ya?”
“Oh, arah pasar. Ayo, jalan bareng saya. Saya juga mau ke pasar!” ucap si nenek sambil mengajak si ibu itu berjalan bersama-sama.
Kali ini, si ibu itu bisa menemui arah yang ia tuju.
**
Dalam kehidupan nyata, kita sering meminta bimbingan dari Allah untuk ditunjuki jalan yang lurus. Tapi dalam pelaksanaannya, bukan jalan yang lurus yang ditempuh, melainkan yang belok kanan atau kiri.
Kita pun meminta lagi dengan permintaan yang sama: agar ditunjukkan ke jalan yang lurus. Tapi tetap saja, jalan yang kita pilih justru yang berbelok ke kanan atau kiri.
Padahal, Allah subhanahu wata’ala sudah memberikan rambu-rambu, sudah menajamkan batin kita untuk peka dari jalan yang salah. Tapi tetap saja, kita tidak mengambil jalan yang lurus meskipun itu yang selalu kita minta.
Beruntunglah jika ada seseorang yang mau ‘berjalan bersama’ untuk menuju ke jalan yang lurus. Dengan begitu, ada yang selalu mengingatkan kalau kita tak usah berbelok ke kanan atau ke kiri. [Mh]



