PERPUSTAKAAN Kementerian Agama (Kemenag) hadir dalam versi terbaru sebagai pusat literasi dan pembelajaran.
Perpustakaan yang berlokasi di lantai 2 kantor layanan Kementerian Agama, Jl MH Thamrin No 6 Jakarta ini jauh dari kesan kaku karena dikemas dengan kreatif dan inovatif.
Upaya mengenalkan versi terbaru perpustakaan Kemenag ini dilakukan antara lain melalui JIPERS Library Tour (Sharing Knowledge Librarianship and Archival Science).
Acara ini diikuti mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (JIPERS) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta).
Kepala Bagian Umum, Perpustakaan, dan Barang Milik Negara (BMN) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag, Rizky Riyadu Taufiq, mengatakan bahwa perpustakaan memiliki peran yang terus berkembang, tidak hanya sebagai penyedia sumber informasi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat dan dunia akademik.
Baca juga: Kemenag Gelar Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM dan Pemanfaatan Teknologi Digital bagi UMKM
Perpustakaan Kemenag jadi Pusat Literasi dan Pembelajaran
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemaparan mengenai praktik kepustakawanan dan kearsipan di lingkungan instansi pemerintah.
Tidak hanya mempelajari teori yang diperoleh di bangku kuliah, peserta juga diajak melihat secara langsung bagaimana Perpustakaan Kementerian Agama RI mengelola koleksi, memberikan layanan kepada pemustaka, hingga mengembangkan inovasi sebagai pusat informasi dan literasi.
Pustakawan Ahli Madya Perpustakaan Kemenag RI, Hariyah, menjelaskan bahwa kunjungan seperti ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara teori yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah dengan realitas pelayanan di dunia kerja.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan disampaikan dalam sesi diskusi, mulai dari pengelolaan koleksi digital, layanan kepada pemustaka dan kearsipan, hingga tantangan yang dihadapi pustakawan di era transformasi digital.
Salah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hayes, awalnya mengira perpustakaan ini hanya berisi buku-buku agama pada umumnya. Namun, ia takjub saat melihat sistem penyusunan bukunya yang sangat detail.
Senada dengan itu, peserta lainnya, Miftha, menilai Perpustakaan Kementerian Agama RI menghadirkan perspektif baru mengenai peran perpustakaan pemerintah. [Din]





