DI ERA media sosial, kita dapat melihat kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik. Ada yang baru membeli rumah, berhasil meraih jabatan, berlibur ke luar negeri, atau terlihat selalu bahagia bersama keluarganya. Tanpa disadari, mata kita menjadi terlalu sibuk memperhatikan apa yang dimiliki orang lain. Akibatnya, hati perlahan kehilangan kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah titipkan kepada diri sendiri.
Padahal, apa yang terlihat belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Tidak semua senyum yang terpampang di media sosial menunjukkan kebahagiaan yang utuh. Tidak semua kehidupan yang tampak mewah terbebas dari ujian. Setiap manusia memiliki perjuangan yang berbeda-beda, hanya saja tidak semuanya memilih untuk menunjukkannya kepada publik.
Baca Juga: Sebesar Apapun Masalah Andalkan Allah dalam Prosesnya
Jangan Sibuk Mengawasi Hidup Orang Lain Sehingga Melupakan Syukur atas Nikmat Sendiri
Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin menjaga hati dari penyakit iri dan terlalu sering membandingkan diri. Membandingkan kehidupan secara terus-menerus hanya akan melahirkan rasa tidak puas. Nikmat yang sebelumnya terasa besar berubah menjadi biasa, sementara keberhasilan orang lain selalu tampak lebih menarik daripada apa yang kita miliki.
Rasa syukur sebenarnya tidak lahir karena seseorang memiliki segalanya. Syukur tumbuh ketika seseorang menyadari bahwa begitu banyak karunia Allah yang sering luput dari perhatian. Masih bisa bernapas dengan lega, tubuh yang sehat untuk beraktivitas, keluarga yang menyayangi, teman-teman yang tulus, rezeki yang halal, hingga kesempatan untuk bertobat setiap hari merupakan nikmat yang nilainya jauh lebih besar daripada apa pun yang sering kita bandingkan.
Sayangnya, ketika mata terlalu fokus melihat kehidupan orang lain, semua nikmat itu menjadi tidak terlihat. Kita merasa hidup kurang beruntung hanya karena melihat orang lain memiliki sesuatu yang belum Allah titipkan kepada kita. Padahal, bisa jadi Allah sedang menjaga kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Allah memiliki cara yang berbeda dalam membagikan rezeki kepada setiap hamba-Nya. Ada yang diberi kelapangan harta, ada yang dianugerahi keluarga harmonis, ada yang dikaruniai kesehatan, dan ada pula yang diberikan ketenangan hati. Semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang tidak bisa diukur hanya dengan materi.
Oleh karena itu, menjaga hati menjadi hal yang sangat penting. Salah satu caranya adalah mengurangi kebiasaan membandingkan diri. Gunakan waktu untuk memperbaiki kualitas ibadah, meningkatkan kemampuan diri, dan memperbanyak mengingat nikmat yang telah Allah berikan. Semakin seseorang sibuk memperbaiki dirinya, semakin sedikit waktu yang ia miliki untuk mengurusi kehidupan orang lain.
Membiasakan diri mengucapkan Alhamdulillah atas hal-hal sederhana juga dapat menumbuhkan rasa syukur. Luangkan waktu setiap hari untuk mengingat beberapa nikmat yang telah diterima. Kebiasaan kecil ini mampu mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Kita akan lebih mudah melihat bahwa Allah sebenarnya telah memberikan begitu banyak karunia yang selama ini sering dianggap biasa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak datang karena kita memiliki kehidupan seperti orang lain. Kebahagiaan lahir ketika hati menerima dengan lapang apa yang Allah tetapkan, sambil terus berikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan biarkan mata terlalu sibuk mengawasi kehidupan orang lain hingga hati kehilangan rasa syukur atas kehidupan sendiri. Sebab, orang yang pandai bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia, bahkan di tengah keadaan yang sederhana. [DW]



