DALAM perjalanan hidup, hampir setiap orang pernah merasa sedih karena sesuatu yang belum dimiliki. Ada yang gelisah karena impian belum tercapai, rezeki terasa sempit, pekerjaan belum sesuai harapan, atau doa yang dinanti belum juga dikabulkan. Tanpa disadari, pikiran kita sering lebih sibuk menghitung apa yang hilang daripada mensyukuri apa yang masih Allah titipkan.
Pada dasarnya, manusia memang memiliki kecenderungan untuk melihat apa yang belum dimiliki. Ketika berhasil membeli rumah, muncul keinginan memiliki rumah yang lebih besar. Saat mendapatkan pekerjaan, muncul harapan memperoleh jabatan yang lebih tinggi. Setelah satu impian tercapai, akan muncul impian berikutnya. Keinginan seperti ini bukanlah sesuatu yang salah selama tetap berada dalam batas yang wajar. Namun, jika hati hanya dipenuhi daftar kekurangan, maka rasa syukur perlahan akan memudar.
Baca Juga: Tips Mix and Match Outfit Coklat dan Hitam
Ini Rahasia Bahagia yang Sering Terlupakan
Saat Nabi Ibrahim AS berkunjung ke rumah putranya, ia hanya bertemu sang menantu. Tanpa mengenal siapa pria tua di hadapannya, ia mengeluh panjang soal beratnya. Sebelum berbalik, Ibrahim AS menitipkan pesan singkat, “Katakan pada suamimu untuk mengganti palang pintu rumahnya.” Ini adalah sebuah isyarat untuk menyudahi hubungan yang kering dari rasa syukur.
Sering kali kita lupa bahwa di balik segala kekurangan yang masih dirasakan, Allah telah memberikan nikmat yang jumlahnya jauh lebih banyak. Nikmat kesehatan, keluarga yang masih menemani, kesempatan beribadah, udara yang bisa dihirup setiap hari, hingga kemampuan untuk bangun di pagi hari merupakan karunia yang tidak ternilai. Sayangnya, nikmat-nikmat tersebut sering dianggap biasa karena hadir setiap hari.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa jika manusia menghitung nikmat-Nya, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya. Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan sesungguhnya dipenuhi dengan karunia, hanya saja hati kita terkadang lebih mudah melihat apa yang belum ada dibandingkan apa yang sudah dimiliki.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Media sosial juga menjadi salah satu penyebab seseorang mudah merasa kurang. Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain, liburan mereka, kendaraan baru, atau keberhasilan yang mereka bagikan. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Akibatnya, rasa syukur berkurang dan kebahagiaan terasa semakin jauh.
Padahal setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah memberikan ujian, rezeki, dan waktu terbaik sesuai dengan hikmah-Nya. Apa yang belum kita miliki hari ini bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik atau sedang mendidik hati agar lebih siap menerima nikmat tersebut.
Kebahagiaan sejatinya bukan ditentukan oleh banyaknya harta atau panjangnya daftar pencapaian. Banyak orang yang hidup sederhana tetapi memiliki hati yang lapang karena selalu mensyukuri apa yang ada. Sebaliknya, ada pula yang memiliki segalanya tetapi tetap merasa kurang karena terus mengejar hal-hal yang belum dimiliki.
Mulailah membiasakan diri untuk melihat nikmat yang sudah Allah berikan. Luangkan waktu setiap hari untuk mengingat berbagai karunia yang telah diterima, sekecil apa pun itu. Dengan hati yang dipenuhi rasa syukur, seseorang akan lebih mudah merasakan ketenangan, optimisme, dan kebahagiaan. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Oemar Mita





