PALESTINA terdapat tempat suci ketiga umat Islam: Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Hanya Islam yang pantas memimpin semua wilayah itu.
Pertama kali, Palestina dibebaskan dari Bizantium oleh Khalifah Umar bin Khaththab pada tahun 638 masehi. Atau, sekitar 3 tahun setelah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah.
Penaklukan ini menjadi solusi damai antara tiga agama yang ada di Palestina: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Ketiganya hidup berdampingan dengan damai. Begitu banyak pembangunan semasa kepemimpinan Islam selama 4 setengah abad.
Namun, pada tahun 1099 masehi, Palestina kembali dikuasai pasukan Salib. Mereka datang dari wilayah Eropa. Saat itulah, ada enam raja Salib yang berkuasa: Baldwin 1 hingga 5, dan Guy dari Lusigna.
Mereka berkuasa hingga Oktober 1187 masehi. Kurang lebih selama 88 tahun, Palestina dalam genggaman mereka.
Siapa yang membebaskan Palestina di masa itu? Dia adalah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Penaklukan itu terjadi setelah terjadi Perang Hittin yang menumbangkan raja terakhir Salib di Palestina.
Seorang komandan perang pasukan Salib bernama Balian merencanakan bumi hangus terhadap Palestina. Ia dan pasukan yang tersisa mengira kalau Shalahuddin akan membantai seluruh warga jika Palestina berhasil ditaklukkan.
Setelah benteng pasukan Balian hampir tumbang, Shalahuddin menawarkan perundingan damai. Tentu saja, hal ini mengejutkan mereka.
Dalam perundingan itu, Shalahuddin menjelaskan kalau seluruh warga Salib akan selamat jika menyerah kalah. Tidak ada penjarahan dan pembantaian. Bahkan, mereka akan dikawal hingga ke pantai untuk kemudian kembali ke Eropa.
Shalahuddin juga menjelaskan, persis seperti yang disampaikan Khalifah Umar bin Khaththab saat penaklukan pertama Palestina. Bahwa, Palestina khususnya Yerusalem tetap menjadi kota suci tiga agama. Semua agama diperbolehkan untuk melakukan ziarah.
Saat itulah, Balian mengatakan, “Aku mengira kalian akan melakukan hal yang sama ketika Palestina ditaklukkan pasukan Salib: pembantaian dan penjarahan tanpa sisa.”
Pada abad ke-19, Palestina kembali lepas dari tangan umat Islam, seiring kejatuhan Kekhalifahan Usmani di Turki. Inggris pun menguasai wilayah itu.
Namun, pada tahun 1948, Inggris memberikan kekuasaan Palestina kepada Israel. Hingga saat ini, Palestina menunggu pembebasan pasukan Islam untuk yang berikutnya.
**
Ketika umat Islam menguasai wilayah, penduduknya akan bahagia dan damai. Meskipun mereka bukan muslim. Tapi, tidak begitu sebaliknya ketika negeri muslim mereka kuasai.
Karena itu, menjadi kewajiban seluruh umat Islam untuk kembali membebaskan negeri Palestina. Musuh yang harus diusir dari negeri Palestina saat ini begitu jelas.
Bukan waktunya lagi kita disibukkan dengan perseteruan sesama umat Islam. Marilah kita berpikir jernih: mana musuh dan mana saudara. Hanya Islam yang pantas memimpin Palestina. [Mh]




