KISAH hidup Tsauban radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa cinta kepada Rasul bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui kesetiaan, pengorbanan, dan ketaatan.
Sehari saja ia tidak berjumpa dengan Rasulullah, ia merasakan sehari itu seperti setahun, Kalau boleh, ia hendak bersama Rasulullah setiap detik. Jika ia tidak bertemu Rasulullah, ia merasa sedih, murung, dan sering kali menangis.
Tsauban pada awalnya adalah seorang budak. Setelah bertemu dengan Rasulullah SAW dan memeluk Islam, kehidupannya berubah. Rasulullah kemudian memerdekakannya, tetapi Tsauban memilih tetap berada di dekat Nabi. Ia merasa kebahagiaan terbesar dalam hidupnya adalah melayani dan menemani Rasulullah SAW.
Kedekatan Tsauban dengan Rasulullah membuatnya mengenal akhlak Nabi secara langsung. Ia menyaksikan bagaimana Rasulullah memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang, kejujuran, dan kelembutan. Pengalaman itu semakin menumbuhkan kecintaannya kepada Nabi hingga sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Baca Juga: Karamah yang Diberikan Allah untuk Ja’far ath-Thayyar
Tsauban, Sahabat yang Tidak Tahan Berpisah dengan Rasulullah
Salah satu kisah yang paling terkenal tentang Tsauban adalah ketika Rasulullah melihat wajahnya tampak pucat dan murung. Nabi kemudian bertanya apa yang sedang dirasakannya. Tsauban menjelaskan bahwa ia tidak sedang sakit. Namun, ia merasa sedih karena memikirkan kehidupan akhirat. Ia khawatir kelak tidak dapat bersama Rasulullah SAW di surga karena derajatnya jauh di bawah derajat para nabi.
Tsauban berkata bahwa ketika berada di dunia saja, jika beberapa waktu tidak melihat Rasulullah, hatinya sudah dipenuhi kerinduan. Lalu bagaimana jika di akhirat nanti ia tidak dapat bertemu dengan Nabi karena perbedaan kedudukan yang begitu jauh?
Kecintaan yang tulus ini menjadi sebab turunnya kabar gembira dari Allah SWT. Dalam tafsir para ulama disebutkan bahwa berkaitan dengan peristiwa tersebut turun firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 69 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Ayat tersebut menjadi penghibur bagi Tsauban sekaligus kabar baik bagi seluruh umat Islam. Kedekatan dengan Rasulullah di akhirat tidak ditentukan oleh nasab, harta, atau kedudukan duniawi, melainkan oleh keimanan dan ketaatan kepada Allah serta Rasul-Nya.
Selain dikenal karena kecintaannya kepada Nabi, Tsauban juga meriwayatkan sejumlah hadis yang menjadi rujukan umat Islam hingga saat ini. Ia termasuk sahabat yang menjaga ilmu dan menyampaikan ajaran Rasulullah kepada generasi setelahnya. Melalui hadis-hadis yang diriwayatkannya, umat Islam dapat mengambil banyak pelajaran tentang ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah Tsauban mengingatkan bahwa cinta kepada Rasulullah bukan sekadar perasaan yang tersimpan di dalam hati. Cinta tersebut harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah, menjalankan perintah agama, serta menjauhi larangan Allah. Semakin seseorang berusaha meneladani Rasulullah SAW, semakin besar harapannya untuk mendapatkan kedekatan dengan beliau, baik di dunia maupun di akhirat. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah SAW. Yanuar Arifin. Noktah: 2020.





