FASE perimenopause, yaitu masa transisi sebelum menopause, bahkan bisa mulai dialami perempuan sejak usia 35 tahun.
Menopause selama ini identik dengan perempuan yang telah memasuki usia lanjut. Namun, perubahan hormonal yang mengarah ke menopause kini dapat terjadi lebih awal dibandingkan beberapa dekade lalu.
Kondisi ini membuat semakin banyak perempuan usia produktif menghadapi berbagai perubahan fisik dan emosional yang kerap tidak disadari sebagai bagian dari proses menuju menopause.
Jumlah perempuan Indonesia yang akan memasuki masa perimenopause diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Baca juga: Ketahui Terapi Jus untuk Menopause
Perimenopause Bisa Dialami Perempuan Sejak Usia 35 Tahun, Simak Penjelasannya Berikut
Diketahui pada tahun 2030 ini akan ada 60 juta wanita Indonesia yang memasuki masa perimenopause. Besarnya jumlah perempuan yang memasuki fase tersebut menunjukkan pentingnya edukasi mengenai perimenopause dan menopause agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi.
Banyak perempuan masih menganggap menopause hanya akan terjadi menjelang usia lanjut. Padahal, tanda-tanda awal perubahan hormonal dapat muncul jauh lebih cepat.
Perimenopause merupakan periode ketika tubuh mulai mengalami fluktuasi hormon reproduksi sebelum akhirnya memasuki menopause.
Masa transisi ini dapat berlangsung selama beberapa tahun dan ditandai dengan berbagai perubahan yang berbeda pada setiap perempuan.
Gejalanya yang sering menyerupai kondisi kesehatan lain atau dianggap sebagai dampak kelelahan sehari-hari, membuat banyak perempuan terlambat menyadari bahwa dirinya sedang memasuki fase perimenopause.
Padahal, pemahaman yang baik mengenai fase ini dapat membantu perempuan lebih siap menjaga kesehatan fisik maupun mental saat terjadi perubahan hormon.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Gejala yang dialami setiap perempuan pasti berbeda-beda. Perubahan suasana hati yang terjadi secara tiba-tiba, sensasi panas mendadak pada tubuh, serta gangguan tidur menjadi keluhan yang paling banyak dirasakan.
Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari apabila tidak dikelola dengan baik.
Selain gejala umum yang terjadi, sejumlah keluhan yang terbilag tidak biasa juga bisa terjadi, misal adanya bau badan, gatal-gatal atau kulit kering.
Gejala-gejala tersebut menunjukkan bahwa perubahan hormon tidak hanya mempengaruhi sistem reproduksi, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi kulit, metabolisme tubuh, hingga kenyamanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. [Din]




