SEJARAH Islam dipenuhi kisah para sahabat yang mengorbankan hidupnya demi agama Allah. Salah satu di antara mereka adalah Abbad bin Bisyrin Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang dikenal karena ketakwaan, kecintaannya kepada Al-Qur’an, dan keberaniannya di medan perjuangan.
Abbad bin Bisyrin berasal dari kalangan Anshar di Madinah. Ia termasuk sahabat yang memeluk Islam pada masa awal dan memiliki hubungan yang dekat dengan Rasulullah. Namanya sering disebut sebagai salah satu sahabat yang memiliki keutamaan dalam ibadah. Bahkan, Rasulullah pernah mempercayainya dalam berbagai tugas penting karena kejujuran dan kesetiaannya.
Baca Juga: Mengenal Uqbah bin Amir Al-Juhani, Ahli Al-Qur’an yang Menjadi Pemimpin Mesir
Abbad bin Bisyrin, Sahabat Rasulullah yang Ahli Ibadah Meski Terluka
Di tengah kesibukan membela Islam, Abbad tidak pernah meninggalkan kedekatannya dengan Al-Qur’an. Ia dikenal gemar membaca ayat-ayat Allah, terutama pada malam hari. Baginya, membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah, tetapi juga sumber ketenangan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Salah satu kisah yang paling terkenal tentang Abbad bin Bisyrin terjadi saat sebuah ekspedisi kaum Muslimin. Ketika itu, ia mendapat tugas berjaga pada malam hari bersama Ammar bin Yasir. Saat Ammar beristirahat, Abbad memanfaatkan waktu tersebut untuk melaksanakan shalat malam.
Di tengah kekhusyukannya membaca Al-Qur’an, seorang musuh yang mengintai dari kejauhan melepaskan anak panah ke arah dirinya. Anak panah itu mengenai tubuh Abbad. Namun, ia tetap melanjutkan bacaan dan shalatnya. Tidak lama kemudian, anak panah kedua dan ketiga kembali menancap di tubuhnya.
Meskipun terluka, Abbad tetap berusaha menyempurnakan shalatnya sebelum akhirnya membangunkan Ammar bin Yasir. Ketika Ammar melihat darah mengalir dari tubuh sahabatnya itu, ia terkejut dan bertanya mengapa Abbad tidak segera menghentikan shalat sejak terkena panah pertama.
Abbad menjawab bahwa saat itu ia sedang membaca surah yang sangat ia cintai. Ia tidak ingin memutuskan bacaannya sebelum menyelesaikan bagian yang sedang dibacanya. Namun, karena khawatir keselamatan pasukan Muslim terganggu, akhirnya ia menghentikan shalat dan memberitahukan keadaan tersebut.
Kisah ini menunjukkan betapa besar kecintaan Abbad bin Bisyrin kepada Al-Qur’an dan ibadah. Meski berada dalam kondisi berbahaya, hatinya tetap terikat kepada Allah. Keimanan yang kuat membuatnya mampu menghadapi rasa sakit dengan kesabaran yang luar biasa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selain dikenal sebagai ahli ibadah, Abbad juga merupakan pejuang yang berani. Ia turut serta dalam berbagai perjuangan bersama Rasulullah. Keberaniannya tidak lahir dari keinginan mencari pujian manusia, melainkan dari keyakinan bahwa membela agama Allah adalah sebuah kehormatan.
Abbad bin Bisyrin akhirnya gugur sebagai syahid pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam peperangan melawan kaum murtad. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi kaum Muslimin, tetapi namanya tetap dikenang sebagai salah satu sahabat yang menggabungkan keberanian dan ketakwaan dalam satu pribadi. [DW]
Sumber: 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi. Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya. Kaunee: 2008.




