ABDULLAH bin Ummi Maktum memiliki kisah yang sangat istimewa di antara para sahabat Rasulullah yang lain.
Meski terlahir sebagai seorang tunanetra, keterbatasan fisik tidak pernah menghalanginya untuk menuntut ilmu, berdakwah, dan berjuang di jalan Allah.
Bahkan, namanya terkait dengan salah satu peristiwa yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an, menjadikannya salah satu sahabat yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.
Siapakah orang yang telah membuat Rasulullah mendapatkan kecaman dari langit dan telah membuat Beliau gelisah?
Siapakah orang yang telah membuat malaikat Jibril turun dari langit untuk menyampaikan pada Rasulullah tentang sebuah wahyu yang berkenaan dengan dirinya?
Dialah Abdullah bin Ummi Maktum yang menjadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam.
Baca Juga: Sumayyah binti Khubbath, Syahidah Pertama dalam Sejarah Islam
Abdullah bin Ummi Maktum, Sahabat Tunanetra yang Namanya Diabadikan dalam Al-Qur’an
Abdullah bin Ummi Maktum adalah sepupu Khadijah binti Khuwailid yang merupakan Ummul Mukminin, istri dari Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam.
Beliau dipanggil dengan sebutan Ummu Maktum karena ibunya melahirkan ia sebagai anak yang buta, ibunya melahirkan dia sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang.
Abdullah bin Ummi Maktum termasuk golongan awal yang memeluk Islam di Makkah. Ia memiliki semangat besar untuk mempelajari ajaran Islam langsung dari Rasulullah.
Suatu hari, ketika Rasulullah sedang berbicara dengan beberapa pemuka Quraisy yang diharapkan dapat menerima dakwah Islam, Abdullah datang dan meminta Rasulullah mengajarinya ayat-ayat Allah.
Karena sedang fokus berdakwah kepada para pemimpin Quraisy, Rasulullah sempat menunjukkan raut kurang berkenan.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi sebab turunnya Surah Abasa ayat 1–10, yang mengingatkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan perhatian dalam dakwah, tanpa memandang status sosial maupun kondisi fisiknya.
Turunnya ayat tersebut menunjukkan betapa Allah memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Sejak saat itu, Rasulullah semakin menghormatinya. Bahkan, ketika bertemu dengannya, Nabi sering menyambutnya dengan penuh kehangatan dan menyebutnya sebagai orang yang karenanya Allah memberikan teguran kepada beliau.
Meski tidak dapat melihat, ia tetap aktif menghadiri majelis ilmu dan berusaha menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang diajarkan Rasulullah. Kecintaannya kepada Islam membuatnya menjadi salah satu sahabat yang sangat dihormati.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kepercayaan Rasulullah kepada Abdullah juga terlihat dari tugas-tugas penting yang diberikan kepadanya. Dalam beberapa kesempatan ketika Rasulullah meninggalkan Madinah, Abdullah bin Ummi Maktum ditunjuk sebagai pengganti untuk mengurus urusan masyarakat dan menjadi imam salat.
Para sejarawan mencatat bahwa ia dipercaya menggantikan Nabi lebih dari sepuluh kali selama berbagai perjalanan dan ekspedisi.
Selain dikenal sebagai muazin bersama Bilal bin Rabah, Abdullah juga memiliki semangat juang yang luar biasa. Ketika usia semakin lanjut dan kondisi fisiknya tidak sempurna, ia tetap ingin berpartisipasi dalam perjuangan kaum Muslimin.
Dalam Perang Qadisiyah pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Abdullah dikisahkan ikut membawa panji kaum Muslimin. Ia menolak menjadikan kebutaannya sebagai alasan untuk berdiam diri dari perjuangan. [DW]





