KANKER paru masih sering dianggap hanya menyerang perokok berat, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Sejumlah mitos tentang kanker paru membuat banyak orang tidak menyadari risiko dan akhirnya terlambat menjalani pemeriksaan.
Padahal, kanker paru dapat lebih mudah ditangani jika ditemukan sejak dini melalui pemeriksaan yang tepat. Beberapa ahli menilai pemahaman yang terlalu sempit tentang risiko kanker paru membuat banyak kelompok rentan justru luput dari skrining.
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa kanker paru hanya dialami perokok. Sebanyak seperempat kasus kanker paru dapat muncul pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok kurang dari 100 batang sepanjang hidupnya.
Kanker paru pada bukan perokok juga disebut lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Pada perempuan dengan keturunan Asia Timur atau Asia Selatan, risiko ini bahkan disebut lebih menonjol.
Baca juga: Faktor Risiko Kanker Serviks Tak Hanya dari Kontak Seksual, Simak Penjelasannya Berikut
Kanker Paru Tidak Hanya Menyerang Perokok Berat, Simak Faktanya Berikut
Mitos lain menyebut hanya perokok berat yang perlu khawatir terhadap kanker paru. Dikutip dari berbagai sumber, Dokter bedah toraks di Mass General Brigham Cancer Institute, Dr Chi-Fu Jeffrey Yang, mengatakan risiko kanker paru tidak hanya ditentukan oleh jumlah rokok yang dihisap.
Ia menjelaskan, risiko kanker paru juga dapat dipengaruhi faktor lingkungan seperti polusi udara, gas radon, faktor genetik, dan riwayat merokok.
Pemeriksaan kanker paru umumnya dilakukan dengan low-dose CT atau CT dosis rendah. Namun, skrining ini tidak dilakukan seluas pemeriksaan kanker lain karena pedoman resmi masih berfokus pada kelompok risiko tertentu.
Kepala bedah toraks University of Chicago, Dr Jessica Donington, menilai kriteria skrining saat ini masih terlalu sempit.
Akibatnya, lebih dari separuh kasus kanker paru muncul pada orang yang tidak memenuhi syarat skrining.
Sebagian orang juga masih menganggap skrining kanker paru tidak terlalu bermanfaat. Pemeriksaan CT dosis rendah dapat menurunkan angka kematian hingga 20 persen.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Tindakan lanjutan setelah ditemukan nodul mencurigakan tidak selalu berupa operasi. Biasanya, dokter akan meminta pemindaian ulang beberapa bulan kemudian untuk melihat apakah nodul berubah atau membesar.
Kanker paru juga tidak selalu menyerang orang lanjut usia. Sekitar 1 dari 10 pasien kanker paru yang baru didiagnosis berusia di bawah 55 tahun.
Pada pasien muda, penyakit ini justru lebih sering ditemukan pada stadium lanjut karena gejalanya tidak langsung dicurigai sebagai kanker.
Gejala kanker paru tidak selalu diawali batuk. Selain batuk yang tidak kunjung hilang, tanda lain dapat berupa sesak napas, nyeri dada, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan terus-menerus, batuk darah, nyeri tulang, pembengkakan kaki, atau perubahan bentuk kuku. [Din]


