TIGA entitas yang saling bekerja sama merusak umat manusia di akhir zaman: iblis, Israel, dan Dajjal.
Al-Qur’an menggambarkan tiga entitas yang sangat merusak umat manusia. Ketiganya saling bersinergi untuk merusak umat manusia. Terutama, hamba-hamba Allah yang beriman.
Iblis Berlogika dengan Asal Penciptaan
Jauh sebelum manusia ada, para malaikat sudah mendapatkan kabar kalau ada di antara mereka yang akan mendapatkan murka Allah. Suatu hal yang jauh dari bayangan mereka.
Para malaikat pun saling mendoakan agar hal itu tidak mereka alami. Mereka minta didoakan Azazil, sosok makhluk sangat soleh yang di kemudian hari menjadi Iblis.
Ketika para malaikat saling mendoakan, justru Azazil yang terlupakan. Ia merasa tak akan pernah mengalami hal buruk. Tapi, hal itulah yang menjadikannya terjebak dalam superioritas yang menjatuhkan.
Ketika Allah menciptakan Adam alaihissalam, para malaikat diminta untuk sujud pada Adam. Sebuah sujud penghormatan, bukan penghambaan.
Ada itu sosok baru, sangat junior di banding mereka. Entitasnya pun dari tanah. Sementara malaikat dari cahaya, dan Azazil dari api. Tanah rasanya jauh lebih rendah dari cahaya dan api.
Itulah logika yang ‘bermain’ di pikiran Azazil. Dan hal itu pula yang menjadikannya enggan untuk sujud pada Adam, di saat para malaikat seluruhnya bersujud.
“Saya lebih baik dari dia, Engkau (Ya Allah) menciptakanku dari api, sementara dia dari tanah,” ucap Azazil yang berubah nama menjadi Iblis karena pembangkangannya.
Inilah logika materialis pertama yang muncul di masa awal penciptaan. Padahal, material atau bahan penciptaan hanya wasilah atau sarana penciptaan dari Yang Maha Berkehendak.
Bukan bahan penciptaan yang menjadikan makhluk mulia atau tidak. Tapi, ketaatan dan ketakwaan mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.
Logika Senioritas Israel terhadap Umat Islam
Di banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala memaparkan tentang karakter buruk Bani Israil. Bani artinya anak keturunan, dan Israil adalah Nabi Ya’qub alaihissalam.
Tidak ada yang salah dari Nabi Ya’qub dan ajarannya yang disampaikan anak keturunannya. Karena ajarannya adalah sama dengan yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hanya syariatnya saja yang berbeda.
Yang salah adalah ketika sebagian anak keturunan Nabi Ya’qub tersesatkan dalam logika senioritas dan pembangkangan. Persis seperti yang dialami Iblis terhadap Nabi Adam.
Bahwa, mereka merasa sebagai manusia ‘super’. Manusia pilihan Tuhan. Dan mendapat tempat tinggal dengan istilah ‘tanah yang dijanjikan’. Itulah kesesatan mereka.
Kini, bangsa itu Allah anugerahkan harta, anak, dan kekuasaan yang luar biasa. Anugerah yang kelak menjadi kehancuran, itu berlangsung puncaknya di abad ini.
Kerusakan yang mereka lakukan luar biasa. Persis seperti Iblis terhadap umat manusia. Mereka rusak sistem keuangan, moral manusia, maraknya perzinahan dan pembunuhan, pembantaian melalui peperangan, penyesatan dunia pendidikan, dan lainnya. Bahkan, dalam dunia kesehatan.
Terakhir, Cina menyampaikan bahwa Covid-19 berasal dari AS. Entahlah mana yang benar. Tapi, hanya Israel yang nyaris tak terpantau publikasi tentang penyebaran virus mematikan itu.
Logika Dajjal yang Bisa Segalanya
Tak jauh berbeda dengan Iblis dan Israel, Dajjal memiliki logika tentang kesombongan. Kesombongannya bahkan merasa bisa ‘menyaingi’ Tuhan. Bisa menghidupkan dan mematikan, bisa menurunkan dan menghentikan hujan, dan seterusnya.
Dajjal mengajak umat manusia saat itu untuk menuhankan dirinya. Bukan Allah subhanahu wata’ala. Na’udzubillah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa Dajjal adalah fitnah terbesar umat manusia di akhir zaman. Kemunculannya hanya 40 hari.
Tapi, satu harinya sama dengan satu tahun, satu harinya lagi sama dengan satu bulan dan satu pekan. Selebihnya sama dengan hari-hari biasa.
Sebegitu dahsyatnya sosok Dajjal, Allah subhanahu wata’ala menurunkan hamba-Nya yang mulia: Nabi Isa alaihissalam, khusus untuk melawan dan melenyapkan Dajjal.
Dajjal terbunuh di wilayah istananya, di wilayah Palestina yang kini diklaim Israel sebagai miliknya.
Iblis, Israel, dan Dajjal Bersinergi
Menariknya, dari tiga jenis makhluk yang berbeda itu, ketiganya saling bekerja sama. Iblis mengerahkan seluruh setan dan sihir untuk kehebatan Dajjal. Jadi, apa yang terlihat luar biasa di balik kemampuan Dajjal, adalah ‘kerja keras’ para setan dan sihir mereka.
Begitu pun dengan Israel. Di balik ‘gila’ perangnya di akhir zaman ini, ada agenda yang menurut para ahli yang dimiliki Israel. Yaitu, mereka ingin ‘menyambut’ kemunculan Dajjal.
Di mana Dajjal akan muncul? Sebagian hadis Nabi menjelaskan bahwa Dajjal akan muncul di Khurasan. Sebuah wilayah yang saat ini masuk dalam kekuasaan Iran.
Nabi juga menjelaskan, kelak Dajjal akan disambut oleh 70 ribu Yahudi di Khurasan. Mereka akan mengarak Dajjal menuju istananya di Yerusalem. Wallahu a’lam.
Jadi, rasanya tidak heran jika Israel begitu ambisius membumihaguskan Iran. Hal ini karena ada agenda tersembunyinya.
Ujian Umat Manusia Akhir Zaman
Semua Nabi hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa. Doa itu berbunyi: Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari fitnah dunia, fitnah kematian, dan fitnah Dajjal.
Kalau secara awam, mungkin ada yang bertanya: kenapa Allah menciptakan tiga makhluk jahat itu?
Jawabannya sederhana, karena Allah ingin menguji hamba-hamba-Nya. Dunia ini ada adalah sebagai sarana ujian. Tanpa ujian, umat Islam tak punya amal istimewa untuk bisa meraih ridha dan surga Allah. Termasuk, ujian Iblis, Israel, dan Dajjal.
Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah-fitnah ini. [Mh]





