TOKOH-TOKOH Islam begitu banyak dalam sejarah. Dan semuanya menyimpan hikmah tersendiri.
Ada seorang tokoh wanita Islam yang begitu dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia adalah seorang wanita belia, istri kedua atau ketiga Rasulullah. Ia adalah Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Ulama berbeda pendapat tentang tahun kelahirannya. Ada yang berpendapat sesudah tahun kenabian, ada juga yang sebelum. Namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa usia Sayyidah Aisyah saat menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam antara 6 sampai 9 tahun.
Para ulama tidak mempersoalkan usia sangat belia itu. Hal itu karena tradisi di masa abad keenam masehi di Arab memang demikian. Putri-putri Nabi: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum menikah di usia sekitar itu: di bawah sepuluh tahun.
Namun, dibandingkan dengan istri-istri yang lain, Sayyidah Aisyah memang tergolong sangat belia. Di sinilah para ulama mengkaji apa rahasia di balik itu.
Yang jelas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah bukan karena insiatif pribadi. Tapi bimbingan dari malaikat yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala melalui mimpi beliau. Dan mimpi itu terjadi beberapa kali.
Hikmah usia Sayyidah Aisyah yang sangat belia itu baru terasa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Yaitu, ketika umat menanyakan tentang bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan kehidupan rumah tangganya dan hal-hal pribadi lainnya?
Dalam hal inilah, umat baru memahami hikmah sosok belia Aisyah radhiyallahu ‘anha saat diperistri Nabi. Yaitu, hafalan dan kecerdasan beliau yang masih segar dibandingkan dengan istri-istri yang lain. Ada lebih dari 2.200 hadis yang disampaikan melalui Sayyidah Aisyah.
Kedua, sosok beliau yang belia menjadi hal yang tidak membuat sungkan para sahabat di masa Nabi untuk menanyakan hal-hal pribadi tentang kehidupan Nabi.
Hampir semua ilmu fikih tentang dunia seksual Islam seperti mandi junub, najistidaknya air mani, dan lainnya; disampaikan melalui Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Begitu pun tentang shalat sunnah Nabi yang dilakukan di kamar Aisyah.
Hal lain adalah tentang keharmonisan rumah tangga. Para sahabat semasa Nabi paham betul kalau Aisyah merupakan istri yang paling dicintai Nabi. Karena itu, mereka biasa memberikan hadiah kepada Nabi saat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sedang pada giliran dengan Aisyah.
Hal ini pernah menjadi kecemberuan istri-istri Nabi yang lain. Hingga akhirnya Nabi menyampaikan bahwa wahyu pun turun saat Nabi berada di kamar Aisyah, bukan pada saat di kamar istri-istri yang lain.
Bahkan ketika wafat, Nabi berada di pangkuan Sayyidah Aisyah. Sebelumnya, Nabi minta dibopong oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Zubair ke kamar Aisyah.
Hal menarik lain tentang Sayyidah Aisyah adalah mimpi beliau tentang tiga rembulan yang jatuh di kamarnya. Ia menanyakan itu kepada ayahandanya: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Abu Bakar menjawab, akan ada orang ‘besar’ dalam Islam yang akan dimakamkan di kamarmu. Dan hal itu ternyata terbukti. Tiga orang besar itu adalah Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khaththab.
Rentang waktu antara kuburan Rasulullah dan Abu Bakar di kamar Aisyah dengan dimakamkannya Umar bin Khaththab sekitar 13 tahun. Sebelum Umar dimakamkan di situ, Aisyah mengunjungi makam itu tanpa mengenakan hijab. Tapi ketika ada makam Umar, Aisyah mengenakan hijab.
Allah mentakdirkan umur yang panjang Sayyidah Aisyah setelah Nabi wafat. Kurang lebih sekitar 45 tahun. Selama itu, Sayyidah Aisyah menjadi ‘nara sumber’ tentang sunnah-sunnah Nabi dan lainnya kepada para sahabat dan tabi’in.
Meskipun ada tiga orang ‘besar’ dalam Islam yang dikuburkan di kamarnya, Sayyidah Aisyah dikuburkan di pemakaman Baqi di Madinah. Hal itu merupakan wasiat pribadi beliau yang disampaikan kepada keponakannya: Abdullah bin Zubair dan lainnya.
Beliau radhiyallahu ‘anha wafat di usia sekitar 64 tahun. Jasanya dalam khazanah keislaman tak pernah ternilai dengan apa pun.
**
Siapa pun tokoh atau aktivis gerakan dakwah Islam selalu memiliki andil dan keistimewaan masing-masing. Jangan pernah mengurangi peran mereka, sedikit pun.
Memang, seorang manusia siapa pun dia, kecuali Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memiliki plus minus. Tapi, jangan pernah terkungkung dengan sisi kekurangannya. Karena kebaikannya selalu jauh lebih banyak. [Mh]




