CITA-CITA seorang muslim selalu memberikan maslahat atau kebaikan. Tapi, jangan sekadar cita-cita yang biasa.
Pada tahun 711 masehi, ada seorang mujahid Islam yang bernama Thariq bin Ziyad, salah seorang panglima dari Kekhalifahan Umayyah. Di usia yang 41 tahun itu, ia bercita-cita untuk menaklukkan wilayah Eropa melalui pintu selat yang kini disebut Selat Gibraltar.
Lebar selat itu 14,3 kilometer. Dan kedalaman lautnya berkisar 300 meter.
Dinamakan Selat Gibraltar karena berkaitan dengan sejarah Thariq bin Ziyad itu. Di wilayah itu, ada bukit karang yang menjadi tempat berlabuhnya pasukan Thariq bin Ziyad. Lama kelamaan, bukit itu disebut Jabal Thariq atau Bukit Thariq.
Nama itulah yang akhirnya disebut orang-orang Eropa menjadi Gibraltar. Hal ini karena lidah orang Eropa sulit menyebut kata Jabal Thariq. Gibraltar oleh lidah orang Eropa dibaca dengan Jibraltar dengan nama asalnya Jabal Thariq.
Awalnya, para pasukan agak ragu apakah mereka mampu menang di wilayah yang sama sekali baru: budaya, iklim, warna kulit, dan bahasa.
Thariq bin Ziyad memompa semangat juang pasukannya. Bahkan ada riwayat yang menyebut kalau kapal-kapal yang mereka tumpangi dibakar oleh sang panglima sendiri: Thariq bin Ziyad. Hal ini dimaksudkan sebagai ‘setruman’ semangat bahwa mereka tak punya pilihan untuk kembali.
Dan benar saja. Dengan izin Allah subhanahu wata’ala, Thariq bin Ziyad bersama pasukannya berhasil menaklukkan pintu gerbang Eropa itu. Spanyol dan Portugal saat itu berhasil ditaklukkan pasukan Islam.
Sejak itulah berdiri pusat peradaban Islam di wilayah Andalusia, Spanyol. Perkembangan Islam di wilayah itu pun mencapai puncaknya ketika berdiri Kekhalifahan Islam Cordoba.
Bisa dibilang, Eropa mengenal peradaban, pengetahuan, dan teknologi seperti sekarang ini melalui pintu wilayah Cordoba ini. Kekhalifahan itu terus berjaya hingga delapan ratus tahun. Tapi akhirnya tumbang oleh penyerangan kerajaan-kerajaan Kristen dari wilayah utara.
**
Generasi Islam masa lalu hampir selalu berkait dengan penaklukan wilayah baru. Penaklukan tidak berarti penghancuran. Justru sebaliknya, membangun kembali dengan yang lebih baik.
Tidak heran jika masa lalu bersejajar nama-nama hebat. Meski masih relatif muda, tapi memiliki prestasi kelas dunia.
Sejarah terus bergulir. Ada kalanya Islam di masa puncak. Dan adakalanya ‘jatuh’ bagai tak berkelas seperti saat ini.
Jangan biarkan masa ‘kejatuhan’ itu terlalu lama. Tak ada yang kurang dari generasi Islam di mana pun masanya, kecuali keberanian untuk mewujudkan mimpi yang tak biasa. Dimulai dari diri kita sendiri. [Mh]


