MUSUH-musuh Islam selalu ingin melemahkan Islam dan kaum muslimin. Sedikit lengah, mereka akan menghancurkan.
Meski sudah terjalin perjanjian Madinah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, suku-suku Yahudi tetap saja berkhianat. Mereka mencari celah agar bisa menghancurkan umat Islam.
Setelah terbukti mengkhianati perjanjian Madinah, suku-suku Yahudi: Nadhir, Qainuqa, dan Quraizhah membangun kekuatan di Khaibar. Sebuah wilayah subur 150 kilometer di sebelah utara Madinah.
Di Khaibar mereka sudah menyiapkan segalanya. Termasuk membangun delapan benteng berlapis, persenjataan, pasukan khusus, dan lainnya.
Dari lokasi ini pula, mereka berkolaborasi dengan Quraisy dan suku-suku Arab musyrik untuk membunuh umat Islam di Madinah. Inilah yang disebut dengan Perang Ahzab, pada tahun kelima hijriah.
Ketika serangan ini gagal, kaum muslimin melakukan serangan balik. Sekitar dua tahun kemudian setelah Perang Ahzab, pada bulan Muharam tahun ketujuh hijriah, Rasulullah memimpin sekitar 1.600 pasukan Islam untuk menaklukkan benteng-benteng Khaibar.
Perjalanan dari pusat Madinah ke Khaibar memakan waktu tiga hari. Umat Islam tiba di dekat Khaibar pada malam hari.
Setelah istirahat, selepas shalat Subuh, umat Islam melakukan serangan mendadak. Saat itu, suku-suku Yahudi sedang berangkat ke lahan pertanian mereka. Mereka pun kaget, karena umat Islam sudah ada di depan mereka. Mereka pun kabur ke benteng-benteng.
Benteng pertama berhasil ditaklukan. Begitu pun dengan benteng kedua dan seterusnya. Hingga, ada sebuah benteng terakhir yang lokasinya begitu ‘canggih’. Benteng ini terasa sangat sulit ditaklukkan.
Lokasi benteng ini berada di atas bukit. Senjata-senjta umat Islam sulit menjangkau mereka. Tapi panah-panah mereka amat mudah mengenai sasaran di bawahnya. Selain itu, di benteng ini sudah tersedia sumber air, gudang-gudang makanan dan senjata.
Rasulullah dan umat Islam pun melakukan pengepungan. Rasulullah mencari posisi strategis sebagai markas di sekitar benteng itu.
Ketika ditemukan lokasinya, ada seorang sahabat bernama Hubab bin Mundzir mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah penentuan lokasi markas ini dari wahyu atau murni dari pikiran Anda?”
Nabi menjawab, dari pikiran beliau. Hubab pun menjelaskan kelemahannya. Antara lain karena lokasinya yang masih dalam radius jangkauan panah musuh, berada di bawah, dan jauh dari sumber air.
Atas usulan Hubab ini, markas pun dipindah ke lokasi yang sesuai usulan Hubab.
Setelah beberapa hari pengepungan, pasukan Yahudi tak juga menyerah, akhirnya dilakukan taktik serangan tidak langsung.
Pasukan Yahudi memang berkumpul di benteng terakhir mereka. Tapi, aset mereka berupa perkebunan kurma, anggur, dan lainnya berada di area yang sudah dikuasai umat Islam. Karena itulah, dilakukan penebangan pohon-pohon kurma milik mereka. Dan hal itu diketahui pasukan Yahudi dari atas.
Benar saja. Tak lama setelah penghancuran perkebunan andalan mereka, pasukan Yahudi pun akhirnya menyerah.
Ada satu peristiwa yang nyaris merenggut nyawa Rasulullah di hari-hari kesepakatan penyerahan total itu. Yaitu, ketika jam makan.
Ada sebuah hidangan yang khusus dihadiahkan untuk Rasulullah dari wanita Yahudi bernama Zainab binti Al-Haris. Rasulullah menerimanya dan mengajak sejumlah sahabat untuk sama-sama menikmati.
Hidangan khusus itu berupa kambing bakar dengan olahan bumbu khas mereka. Untuk di bagian paha, kadar racunnya yang paling banyak. Hal itu karena Zainab tahu kalau Rasulullah paling suka daging di bagian paha.
Tapi ketika Rasulullah baru mencicipi, belum sampai menelan, daging itu ‘menjelaskan’ kepada Nabi kalau ada racun di situ. Nabi pun langsung memuntahkannya.
Namun tidak begitu dengan seorang sahabat bernama Bisyir bin Bara’. Ia sudah terlanjur menelan potongan daging. Saat itu juga, ia terkapar meninggal dunia.
Setelah dipanggil Rasulullah, Zainab mengakui perbuatannya. Hal itu ia lakukan karena dendam lantaran suaminya termasuk yang tewas dalam penaklukan benteng Khaibar itu.
Tapi, Zainab juga mengatakan bahwa ia ingin ‘menguji’ apakah Rasulullah benar-benar seorang Nabi atau bukan. Hal ini karena Nabi pasti akan tahu bahwa di hidangannya ada racun.
Ketika Zainab meyakini bahwa beliau benar-benar seorang Nabi, Zainab pun meminta maaf dan menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah pun memaafkan Zainab.
Namun, tidak begitu dengan keluarga dari Bisyir bin Bara’ yang terlanjur sudah wafat. Mereka melayangkan gugatan berupa hukum qishah kepada Zainab. Dan setelah diadili, akhirnya Zainab dihukum mati.
Meski sudah ditaklukkan, suku-suku Yahudi di Khaibar tidak diusir. Mereka masih boleh Bertani, beternak, dan lainnya. Tapi, ada kesepakatan untuk menyerahkan separuh hasil pertaniannya kepada umat Islam.
Namun tetap saja, suku-suku terakhir Yahudi di Khaibar ini akhirnya juga melakukan pengkhianatan perjanjian dengan umat Islam.
Di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, mereka semua akhirnya dipindahkan ke Suriah, sebuah wilayah yang saat itu sudah ditaklukkan umat Islam.
Sejak itu, tak ada lagi komunitas Yahudi yang tinggal menetap di kawasan Hijaz: Madinah, Mekah, dan sekitarnya.
**
Air susu dibalas dengan air tuba. Itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan sikap musuh terhadap kebaikan umat Islam. Dari generasi ke generasi.
Ketika pada posisi lemah, mereka menawarkan perjanjian damai. Tapi ketika kuat, mereka melakukan penyerangan dan permusuhan terbuka.
Fakta-fakta itu bertebaran di seantero dunia Islam. Termasuk di wilayah yang dulunya negeri-negeri muslim seperti yang terjadi di Palestina.
Awalnya mereka datang sebagai pelancong atau turis, tapi setelah kuat, mereka memerangi dan mengusir umat Islam di Palestina.
Kewaspadaan ini tidak lantas membuat kita ‘paranoid’ dengan non muslim. Tapi sekadar kewaspadaan, seperti yang Allah sampaikan di Surah Al-Baqarah ayat 120 bahwa tidak akan ridha Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam, hingga umat Islam mengikuti agama mereka. [Mh]


