TADABBUR Al Kahfi di momen Isra Mi’raj; Tentang Pemuda Murid Nabi Musa dan Bebasnya Baitul Maqdis, ditulis oleh @ceritaedgar, Edgar Hamas, Founder Gen Saladin.
Salah satu nama yang mencuri perhatianku saat mentadabburi Al Kahfi adalah “fata Musa”, pemuda yang menjadi murid Nabi Musa, menemani perjalanan untuk berguru ke Nabi Khidr.
Pemuda itu dalam banyak tafsir, adalah Yusya bin Nuun. Generasi baru Bani Israil yang murni akidahnya.
Dr. Usamah Al Asyqar mengatakan bahwa Yusya inilah yang meneruskan perjuangan Nabi Musa untuk memimpin Bani Israil menuju Baitul Maqdis, ketika generasi sebelumnya apatis.
Bayangkan saja, generasi tua Bani Israil menolak mentah-mentah perintah Nabi Musa untuk bebaskan Al Aqsha.
Dalam Al Maidah Allah abadikan culasnya Bani Israil generasi budak pada Nabi Musa, “pergilah kau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua. Biarlah kami menanti di sini saja.”
Generasi itu usai, digantikan oleh angkatan baru yang beriman. Dan, Yusya menjadi panglimanya.
Yusya, sang pemuda yang mengiringi Nabi Musa bertemu Khidr itu akhirnya menjadi pemimpin besar yang meneruskan cita-cita gurunya: membebaskan Baitul Maqdis dan menegakkan tauhid di sana.
Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad: Ruh Semata atau Bersama Jasad
Tadabbur Al Kahfi di momen Isra Mi’raj
Rasulullah bahkan pernah mengisahkan bagaimana Yusya bin Nun meramu persiapannya. Bagaimana?
Untuk persiapan menuju Baitul Maqdis, saat itu Nabi Yusya menolak tiga orang:
yang belum menuntaskan pernikahan,
yang rumahnya belum selesai,
dan harta hasil gembalanya masih ditunggu hasilnya.
Ya, sang Yusya ingin pembebasan Baitul Maqdis ini diisi oleh orang-orang yang fokus.
Di bawah kepemimpinan Yusya kemudian, Bani Israil yang bertauhid ini Allah takdirkan membebaskan Kota Ariha.
Rasul bersabda, “Matahari tak pernah ditahan terbenam untuk seorang manusia pun, kecuali untuk Yusya’ bin Nun, pada malam-malam ketika ia berjalan menuju Baitul Maqdis.”
Ribuan tahun setelah Yusya dan nabi-nabi lain berdakwah di Baitul Maqdis, Allah meng-Isra-kan Rasulullah ke negeri itu juga.
Syaikh Ikrimah Shabri mengatakan bahwa Allah menjadikan Al Aqsha sebagai tujuan Isra, hikmahnya: agar Nabi terpaut dengan perjuangan nabi-nabi sebelumnya.
Dari kisah Yusya, kita menyimpulkan bahwa perjuangan pembebasan Al Aqsha itu ternyata proyek lintas generasi.
Nabi Musa, dilanjutkan oleh Yusya.
Nabi Muhammad, dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya.
Bumi Isra Mi’raj itu, telah dan akan terus menjadi pusat perjuangan lintas zaman.
Maka, mari mengingat Isra Mi’raj bukan lagi sekadar peringatan tahunan. Ia, sejatinya adalah alarm untuk kita bertanya pada diri: sudah sedekat apa kita pada pembebasan bumi Isra Mi’raj itu?
Apakah fokus kita sudah seperti fokusnya pasukan Yusya? Atau masih mudah terdistraksi?[ind]


