RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam juga seorang manusia. Ia butuh hiburan ketika suasana hatinya dilanda kesedihan luar biasa.
Pada tahun kesepuluh kenabian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami pengalaman sedih. Tidak tanggung-tanggung, hal itu terjadi empat kali dan berturut-turut di tahun yang sama.
Pertama, ketika Bani Hasyim atau keluarga besar Rasulullah mengalami pemboikotan total oleh seluruh suku Quraisy. Tidak boleh ada kontak, perdagangan, pernikahan, dan lainnya.
Kedua dan ketiga, wafatnya Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha dan wafatnya Abu Thalib. Keduanya merupakan sosok yang begitu penting dalam dukungan personal terhadap Nabi.
Baik Khadijah maupun Abu Thalib sama-sama sebagai tempat berbagi rasa Rasulullah terhadap segala ‘pukulan’ dari kafir Quraisy. Khadijah juga memberikan dukungan secara finansial dan Abu Thalib sebagai ‘backing’ politik.
Peristiwa sedih yang dialami Nabi itu terjadi pada bulan Ramadan tahun kesepuluh kenabian. Dan satu bulan kemudian: bulan Syawal, Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Thaif untuk membuka ‘lahan’ dakwah baru.
Jarak antara Mekah dengan Thaif sekitar 90 kilometer. Thaif bukan sekadar jauh dari Mekah, tapi juga sulit dilalui karena merupakan daerah pegunungan berbatu.
Dengan susah payah kedunya menuju Thaif dengan harapan akan ada sambutan yang baik. Tapi, yang didapat Nabi bukan sambutan, tapi sambitan batu. Anak-anak di Thaif dikerahkan untuk melempari Nabi dengan batu, hingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami luka-luka.
Di sebuah sisi bukit, Rasulullah bermunajat kepada Allah. Nabi mencurahkan segala kesedihan dan harapannya kepada Allah.
Beberapa hari kemudian, melalui Malaikat Jibril, Allah subhanahu wata’ala mengajak Nabi melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj.
Isra merupakan perjalanan udara dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina. Perjalanan dilanjutkan dengan Mi’raj, dari bumi Palestina ‘terbang’ menuju tujuh lapis langit, hingga ke Sidratul Muntaha.
Di semua perjalanan itu, Nabi ‘dikawal’ Malaikat Jibril dan bertemu dengan malaikat-malaikat yang lain. Selain itu, Nabi juga bertemu dengan para Nabi dan Rasul dan berkomunikasi dengan mereka.
Sungguh sebuah perjalanan yang sangat ‘menghibur’ hati Nabi. Linuriyahu min ayatina: untuk Kami perlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami.
Di momen yang luar biasa itu pula, Malaikat Jibril memperlihatkan wujud aslinya. Dan yang lebih luar biasa lagi, Nabi berkomunikasi langsung dengan Allah subhanahu wata’ala untuk menerima perintah ibadah shalat lima waktu. Meskipun, Nabi tidak melihat ‘wajah’ Allah subhanahu wata’ala.
Berulang kali, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkomunikasi dengan Nabi Musa alaihissalam di langit keenam agar Nabi meminta keringanan jumlah waktu shalat. Dari 50 waktu hingga akhirnya menjadi lima waktu saja.
**
Satu-satunya perintah Allah untuk umat Islam yang tidak melalui perwakilan Malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah perintah shalat. Perintah itu diterima langsung oleh Nabi dari Allah subhanahu wata’ala.
Inilah puncak dari Mi’raj Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan begitu pun dengan kita semua sebagai hamba Allah dan umat Nabi.
Melalui shalat, kita seolah melakukan Mi’raj untuk berkomunikasi langsung dengan Allah subhanahu wata’ala. Kita mengagungkan-Nya, memuji-Nya, membaca dan menyimak firman-Nya, bertakbir membesarkan nama-Nya.
Dan di momen indah itu pula, kita bisa bermunajat mencurahkan hati dan segala keinginan.
Sehingga meski berkali-kali dilakukan, kita tak pernah bosan. Ingin lagi dan lagi. Dan selalu ada kerinduan ketika panggilan azan belum juga berkumandang memanggil kita. [Mh]




