KAJIAN hari pertama Youth Islamic Week yang digelar di Hub Indonesia pada Sabtu (10/1/2026) menghadirkan Ustaz Ali Hasan Bawazier sebagai pemateri.
Mengangkat tema “Misi Hidup Dimulai dari Rumah”, kajian ini menyoroti pentingnya keluarga sebagai pusat pembentukan akhlak dan kebahagiaan hidup.
Dalam pemaparannya, Ustaz Ali Hasan Bawazier menjelaskan bahwa wanita shalihah adalah sosok yang menjaga kehormatan dirinya serta taat kepada Allah.
Menurutnya, ketakwaan dan akhlak menjadi landasan utama dalam membangun rumah tangga yang baik.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ia juga mengingatkan orang tua agar memperhatikan aspek agama dan akhlak ketika menilai calon menantu.
Ustaz Ali mengutip pesan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa apabila datang seseorang yang diridhai agama dan akhlaknya, maka hendaknya dinikahkan, karena jika tidak dapat menimbulkan fitnah.
Akhlak dan agama, lanjutnya, mencerminkan kualitas akidah dan ibadah seseorang.
Kajian Youth Islamic Week Tekankan Peran Keluarga dan Akhlak dalam Membangun Rumah Tangga
Dalam kajian tersebut, Ustaz Ali turut menyampaikan sabda Nabi mengenai beberapa faktor kebahagiaan dalam rumah tangga, di antaranya memiliki istri yang shalihah, rumah yang lapang, kendaraan yang nyaman, dan tetangga yang shalih.
Ia menjelaskan bahwa makna “lapang” tidak semata-mata luas secara fisik, tetapi juga kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan fungsinya.
Adapun kendaraan yang nyaman dimaknai sebagai sarana yang mengantarkan pemiliknya menuju tempat-tempat yang baik dan bermanfaat.
Baca juga: Youth Islamic Week Hadirkan Olahraga, Edukasi, dan Kebersamaan Keluarga di Hub Indonesia
Sementara itu, keberadaan tetangga yang shalih dinilai sangat berpengaruh terhadap suasana dan kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga.
Menutup kajiannya, Ustaz Ali Hasan Bawazier mengingatkan pentingnya menghidupkan rumah dengan nilai-nilai keislaman.
Ia menekankan agar rumah tidak dibiarkan kosong dari lantunan dan pembacaan Al-Qur’an, karena hal tersebut menjadi sumber keberkahan dan ketenangan bagi seluruh anggota keluarga.[Sdz]





