ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Selasa, 16 Juli 2019 | 13 Zulqaidah 1440 H
Login | Register

 


 
 
 
 
NASIHAT

Pencitraan dari Kaca Jendela Mobil dan Kereta

10 July 2019 19:55:10
Nasihat, muhasabah
Ilustrasi.

ChanelMuslim.com- Moda transportasi ternyata menyimpan potensi pencitraan sosok hidup manusia. Susah senang, duka bahagia manusia yang kita temukan bisa berbeda jika kita melihat dari balik kendaraan yang berbeda.

Dalam hal ini, perbedaan sudut pandang dari dua kendaraan darat bisa kita rasakan. Yaitu, sudut pandang ketika meneropong hidup manusia dari balik kaca jendela mobil dan kaca jendela kereta.

Mobil melalui jalan raya, sementara kereta mengikuti rel. Jalan raya yang dilalui mobil selalu menampilkan sosok depan komunitas manusia yang terbungkus rapi: indah, menawan, sukses, dan penuh warna. 

Dari balik jendela mobil, kita akan disuguhkan pemandangan yang mengesankan baik, rapi, sejahtera, dan semacamnya. 

Yang terlihat dari balik kaca mobil adalah pagar rumah dan gedung yang begitu kekar, warna cat yang menawan, taman-taman halaman depan yang penuh bunga dan semburat keserasian pepohonan yang hijau dan menyejukkan. 

Dari balik kaca jendela mobil, teramat jarang kita temukan pemandangan toilet rumah. Anak-anak yang lemas karena belum makan. Jemuran pakaian yang apa adanya, mulai dari kemeja hingga pakaian dalam. Juga, ibu-ibu yang hanya mengenakan pakaian tidur karena belum sempat bersolek.

Dari balik kaca jendela mobil di jalan raya yang kita lalui, semua terbungkus begitu rapi. Semakin besar jalan raya, semakin rapat pembungkus citra yang kita temukan. 

Pemandangan akan berbeda jika kita meneropong hal itu semua dari balik kaca jendela kereta api. Manusia umumnya, siapa pun mereka: kaya miskin, pejabat atau rakyat biasa; tidak akan pernah merasa perlu untuk memoles pencitraan diri di depan rel kereta. 

Buat apa? Toh, kereta tidak akan pernah berhenti di depan rumah atau gedung manusia. Tidak akan pernah berhenti di depan restoran. Tidak akan pernah menyapa dan menanyakan perihal hidup manusia yang dilalui. Jendela-jendela kereta pun terkunci rapat, bahkan terkunci mati.

Kereta yang melintas di belakang rumah, di samping rumah, di ujung persawahan; seperti benda mati yang datang dan pergi begitu saja, seperti robot yang hanya bersuara, tapi tak punya jiwa.

Dari situlah, manusia yang dilalui kereta tidak akan pernah merasa perlu untuk memoles sosok mereka dengan pencitraan. Tidak merasa perlu untuk menutup wajah mereka apa adanya. Karena hal itu bukan sekadar seperti tidak bermanfaat, tapi juga sangat merepotkan.

Kereta bisa muncul dari mana saja tergantung rel yang dilalui. Bisa muncul dari belakang rumah yang semrawut, walau tampak depan rumahnya begitu indah menawan. Bisa muncul di dekat kamar mandi belakang rumah yang jarang terurus, jorok, dan apa adanya. Juga, bisa muncul di saat-saat anak-anak kecil yang memperlihatkan wajah-wajah polos mereka: lapar, kesal, tangis, dan lainnya.

**

Kalau kita ingin menatap wajah-wajah manusia di kota, desa, dan lainnya melalui kaca jendela mobil; kita tidak akan menemukan manusia yang susah, duka, apa adanya. Semuanya seperti bahagia. 

Senyum-senyum bahagia yang terpoles rapi sebagai beranda hidup mereka. Kesopanan dan kesantunan yang sudah begitu terlatih untuk dipaksakan. Dan, kita pun akan tertipu dengan semua itu. 

Berbeda dengan kereta yang mendapati wajah-wajah manusia dari arah mana saja. Bukan dari dan melalui beranda hidup mereka yang terkesan serba wah. Melainkan, dari arah belakang hidup mereka yang menampilkan sosok mereka apa adanya. 

Pemandangan sosok hidup manusia dari balik kaca jendela kereta seperti sorotan kamera ghaib yang bisa melihat sesuatu tanpa yang dilihat merasa perlu untuk menyadari bahwa mereka sedang dilihat dan diketahui.

Pemandangan ini, tentu bukan untuk menemukan aib-aib yang harus ditutup dan disembunyikan. Tapi, untuk menghidupkan sensitivitas dan kepedulian yang semestinya. 

Bahwa, ternyata kita hidup di tengah sahara kemiskinan. Kita hidup di tengah kesusahan yang membutuhkan kepedulian yang lebih besar. Dan mestinya, bukan polesan pencitraan wajah mereka yang kita cari dan inginkan. Melainkan, wajah asli yang menggerakkan kepedulian kita. (muhammad nuh)

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
toko bunga bogor, jual bunga papan, bunga papan, budget florist
 
TOPIK :
nasihat
muhasabah
 
BERITA LAINNYA
 
 
NASIHAT
28 November 2017 08:14:43

Lontong

 
NASIHAT
31 July 2018 11:53:27

Lilin

 
NASIHAT
17 September 2018 11:46:50

Tempurung


 
 
Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
TERBARU
 
iklan chanel muslim, rate iklan chanelmuslim, website islam iklan
 
Buku Pilu di Palu Mam Fifi
 
TERPOPULER
 
 
Jual Buku Mencintaimu Dengan Cinta Yang Lebih Tertata Penulis Fifi P.Jubilea
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga
JANGKAU LEBIH LUAS KONSUMEN ANDA,
beriklan di ChanelMuslim.com
Hotline : 0813.1956.2284