KITA berusaha menyelesaikan pekerjaan, menjauh dari orang-orang yang membuat lelah, mencari suasana baru, hingga menyibukkan diri agar tidak terlalu banyak memikirkan masalah. Namun, setelah semuanya dilakukan, hati terkadang masih terasa gelisah.
Kita mungkin mengira ketenangan akan datang ketika semua urusan selesai, keinginan tercapai, atau keadaan berjalan sesuai harapan. Padahal, hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Selalu ada persoalan yang harus dihadapi, rencana yang berubah, dan kenyataan yang tidak sesuai dengan doa-doa kita.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa ketenangan bukan semata-mata tentang keadaan di sekitar kita. Ketenangan juga berkaitan dengan bagaimana hati memandang kehidupan dan kepada siapa kita menggantungkan harapan.
Baca Juga: Laila binti Khatim Sosok Sahabiyah yang Mengajarkan Keberanian dan Kerendahan Hati
Ketenangan Hati Datang dari Allah Bukan Sekadar Keadaan yang Berubah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa zikir dan mengingat Allah memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan seorang Muslim. Ketika hati dipenuhi kegelisahan, kita perlu kembali mendekat kepada-Nya, bukan hanya sibuk mencari cara untuk mengubah keadaan di luar diri kita.
Bukan berarti kita tidak perlu berusaha memperbaiki kehidupan. Kita tetap harus bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, mencari jalan keluar dari masalah, dan berusaha menjauhi hal-hal yang membawa keburukan. Namun, semua ikhtiar itu perlu disertai keyakinan bahwa hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Terkadang, yang membuat kita kehilangan ketenangan bukan hanya masalah yang sedang dihadapi, melainkan keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Kita ingin semua berjalan sesuai rencana, orang lain memahami kita, dan setiap doa segera terwujud. Ketika kenyataan berbeda, hati pun mudah kecewa.
Padahal, ada hal-hal yang memang berada di luar kemampuan kita. Belajar menerima kenyataan, bersabar dalam proses, dan menyerahkan hasil kepada Allah merupakan bagian dari perjalanan memperkuat iman.
Karena itu, ketika hati mulai terasa sesak, cobalah berhenti sejenak. Ambil waktu untuk berwudu, menunaikan salat, membaca Al-Qur’an, atau berzikir dengan penuh kesadaran. Sampaikan segala kegelisahan kepada Allah melalui doa. Tidak perlu menunggu hidup menjadi sempurna untuk kembali mendekat kepada-Nya.
Perbaikilah hubungan dengan Allah sedikit demi sedikit. Jaga salat, perbanyak istigfar, dan latih hati untuk bersyukur atas nikmat yang masih ada.
Sebab, kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita bisa terus belajar menyikapinya dengan iman.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menenangkan hati kita di tengah berbagai ujian, menguatkan langkah ketika terasa lelah, dan menumbuhkan keyakinan bahwa pertolongan-Nya selalu layak diharapkan. [DW]
Sumber: Ustadzah Aisyah Farid





