IBU itu sosok mulia yang sangat berjasa. Hormati ibu meski beda agama.
Ada seorang sahabiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu mulia. Ia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma. Namanya Asma binti Abu Bakar.
Asma tergolong sahabiyah senior. Sejarah menyebut Asma tergolong orang yang ke-19 masuk Islam.
Menariknya, ibunya: Qutailah binti Abdil Uzza, tidak mau masuk Islam. Bahkan sang ibu rela bercerai dengan ayahanda: Abu Bakar Ash-Shiddiq demi tetap dalam keyakinan lamanya.
Perceraian ini hingga memutus hubungan antara ibu dan anak. Sejak itu, Asma dan ibunya tak lagi menjalin hubungan. Hingga suatu hari ketika keduanya sudah terpisah sekitar 15 tahun.
Saat itu, Asma sudah enam tahun berada di Madinah bersama Rasulullah dan umat Islam, termasuk ayahanda dan suaminya: Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhum.
Ada momen di mana hasil perjanjian Hudaibiyah memungkinkan warga musyrik Quraisy berkunjung ke Madinah dengan aman dan boleh kembali lagi ke Mekah. Hal inilah yang menjadikan ibunda dari Asma itu ingin sekai menemui putri sulungnya itu.
Rasa rindunya itu berakumulasi dengan kabar bahwa si sulungnya itu sudah punya anak laki-laki. Namanya, Abdullah. Saat itu, usia Abdullah sudah enam tahun.
Dengan hati menggebu-gebu, Qutailah berangkat ke Madinah. Ia sudah membayangkan betapa bahagianya bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan putri dan cucunya.
Ketika sang ibu sudah tiba di Madinah, kini giliran Asma yang bingung. Apa boleh menemui dan menjamu ibunya padahal masih musyrik?
Akhirnya, Asma menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menceritakan hal itu dan menanyakan tentang ibunya yang ingin bertemu dengannya dan juga dengan sang cucu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa hal itu boleh. “Sambunglah silaturahim dengan ibumu,” ucap Nabi.
Ketika ditemui Asma, ibunya begitu senang. Keduanya larut dalam kerinduan dan cinta yang sempat tertahan lama. Ibunya membawa berbagai pakaian, makanan, dan berbagai hadiah lain untuk sang cucu.
**
Ibu tetap sebagai ibu. Ada limpahan cinta di sana, teruntuk putra dan putrinya. Meskipun kadang ada ‘jarak’ yang akhirnya memisahkan mereka.
Ada pepatah Arab mengatakan: al waqtu juz’un minal ‘ilaaj. Kadang guliran waktu bisa ‘menyembuhkan’ hubungan yang tidak harmonis.
Tetaplah berbaik sangka dan menjaga hubungan baik dengan siapa pun yang mengambil ‘jarak’ dengan kita. Karena suatu hari, guliran waktu akan membersamai hubungan baik itu. Terlebih kepada ibu. [Mh]



