NASIHAT itu memberikan manfaat yang baik kepada siapa pun. Termasuk, kepada penguasa. Tapi, harus disampaikan dengan ikhlas.
Di masa puncak kejayaannya, Kekhalifahan Abbasiyah dipimpin Khalifah Harun Ar-Rasyid. Di masa itu, ada seorang ahli hikmah yang zuhud dan tidak tertarik dengan imbalan upah.
Nama ahli hikmah itu Muhammad bin Shubaih. Beliau biasa disebut Ibnu Sammak.
Beliau pernah mengajarkan, “Jika seluruh isi dunia diletakkan dalam genggamanmu, tapi saat itu juga datang kematian menjemput. Pertanyaannya, apakah segala yang di genggamanmu itu bisa memberikan manfaat?”
Suatu hari, Ibnu Sammak diundang ke istana untuk memberikan nasihat kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Ada momen ketika Khalifah akan meminum air di gelas. Ibnu Sammak langsung menahannya.
Ia mengatakan, “Wahai Khalifah, jika tak ada air lagi kecuali yang di gelas ini, apakah Khalifah mau menebusnya dengan seluruh kekayaan yang Anda miliki?”
Khalifah menjawab, “Ya, aku mau menebusnya.”
Air itu pun akhirnya diminum Khalifah.
Kemudian, Ibnu Sammak berujar lagi, “Wahai Khalifah, jika air yang Anda minum tadi tertahan dan tidak bisa dikeluarkan dari tubuh Anda (kencing) kecuali dengan menebusnya dengan seluruh kekayaan Anda. Apakah Anda mau menebusnya?”
Khalifah menjawab, “Ya, aku mau menebusnya.”
Ibnu Sammak akhirnya memberikan nasihat: Wahai Khalifah, seluruh kekayaan yang Anda miliki, pada hakikatnya tak lebih dari segelas air ini.
Saat itu juga, Khalifah Harun Ar-Rasyid tersentuh dengan nasihat itu. Beliau pun menangis.
**
Nasihat kepada penguasa itu bukan tentang isinya. Melainkan, tentang siapa yang menyampaikannya. Semakin ikhlas dan tulus nasihat disampaikan, semakin kuat bekas yang akan ditinggalkan.
Namun di sinilah letak kesulitannya. Karena, hampir semua yang ‘merapat’ ke penguasa, lebih terdorong ingin mendapatkan sesuatu daripada memberikan sesuatu. [Mh]


