DALAM perjalanan hidup setiap manusia pasti ada masa ketika segalanya terasa begitu berat. Masalah datang silih berganti. Harapan yang sudah lama diperjuangkan belum juga terwujud. Bahkan terkadang kita merasa tidak memiliki siapa pun yang benar-benar memahami kesedihan kita. Pada saat seperti itu kita biasanya kembali mendekat kepada Allah. Kita memperbanyak doa. Menjaga salat dan memohon agar diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan.
Namun pernahkah kita menyadari bahwa kedekatan dengan Allah seharusnya tidak hanya tumbuh ketika kita sedang mengalami kesedihan? Bukankah Allah juga yang memberikan kebahagiaan setelah melewati masa sulit? Dialah yang melapangkan rezeki. Menghadirkan orang-orang baik dalam kehidupan kita dan memberikan berbagai nikmat yang sering kali tidak kita sadari keberadaannya.
Jangan sampai kita hanya mengingat Allah ketika membutuhkan pertolongan lalu perlahan melupakan-Nya setelah keinginan kita terwujud.
Menjadikan Ibadah sebagai Kebutuhan
Ibadah bukan sekadar tempat untuk mengadu ketika kehidupan terasa menyakitkan. Ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Allah yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salat bukan hanya dilakukan ketika hati sedang gelisah. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar pelarian ketika masalah datang. Begitu pula doa yang tidak seharusnya hanya dipanjatkan ketika kita menginginkan sesuatu.
Ketika ibadah menjadi kebutuhan hati maka kita akan berusaha mendekat kepada Allah dalam keadaan apa pun. Saat sedih kita datang untuk memohon kekuatan. Saat bahagia kita datang untuk mengucapkan syukur. Ketika menghadapi kesulitan kita memohon jalan keluar. Ketika memperoleh keberhasilan kita menyadari bahwa semua itu tidak terlepas dari pertolongan dan izin-Nya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 152 yang artinya, “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
Ayat tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya mengingat Allah dan mensyukuri segala nikmat yang diberikan. Hubungan dengan Allah tidak semestinya bergantung pada keadaan yang sedang kita alami.
Jangan Sampai Kebahagiaan Membuat Kita Lalai
Ada kalanya seseorang menjadi lebih rajin beribadah ketika menghadapi masalah. Ia bangun pada malam hari untuk berdoa. Menangis dalam sujud dan memohon agar kesulitannya segera berakhir. Namun setelah keadaan membaik dan keinginannya tercapai perlahan-lahan ia kembali sibuk dengan urusan dunia.
Salat mulai ditunda. Al-Qur’an jarang dibaca dan doa tidak lagi menjadi kebiasaan. Kesibukan mencari rezeki serta mengejar berbagai keinginan membuat waktu untuk mengingat Allah semakin berkurang.
Padahal kebahagiaan juga merupakan ujian. Ketika mendapatkan kelapangan rezeki kita diuji melalui cara menggunakannya. Ketika memperoleh keberhasilan kita diuji melalui sikap terhadap orang lain. Bahkan ketika kehidupan terasa nyaman kita diuji apakah masih memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya kedekatan dengan Allah setelah kehilangan sesuatu yang kita cintai. Jangan pula menunggu hati terluka untuk kembali memperbaiki ibadah.
Belajar Bersyukur dalam Setiap Keadaan
Menjaga hubungan dengan Allah tidak selalu harus dimulai melalui amalan yang besar. Kita dapat memulainya dengan menjaga salat lima waktu. Membiasakan diri membaca Al-Qur’an meskipun hanya beberapa ayat setiap hari. Memperbanyak istigfar dan meluangkan waktu untuk berdoa dengan penuh ketulusan.
Ketika bangun tidur bersyukurlah karena masih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan. Saat menikmati makanan ingatlah bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ketika pekerjaan berjalan lancar jangan lupa berterima kasih kepada Allah atas kemudahan yang diberikan.
Begitu pula ketika menghadapi masalah jangan terburu-buru menganggap bahwa Allah telah meninggalkan kita. Kesulitan bukan berarti Allah membenci hamba-Nya. Jadikan setiap ujian sebagai kesempatan untuk belajar bersabar dan memperkuat keimanan.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah. Dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan bahwa urusan seorang mukmin itu menakjubkan. Ketika memperoleh kesenangan ia bersyukur dan hal itu menjadi kebaikan baginya. Ketika mengalami kesusahan ia bersabar dan hal itu pun menjadi kebaikan baginya.
Pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa Allah selalu menjadi tempat kita bergantung dalam setiap keadaan. Jangan hanya mendatangi-Nya ketika dunia terasa sempit. Datanglah juga ketika kehidupan terasa lapang.
Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya pandai meminta pertolongan tetapi juga senantiasa bersyukur atas segala pemberian-Nya. Semoga hati kita tetap dekat kepada Allah ketika sedang diuji maupun ketika sedang menikmati kebahagiaan.
Sebab kebahagiaan yang paling menenangkan bukanlah kehidupan tanpa masalah melainkan hati yang tetap mengingat Allah dalam keadaan apa pun. آمين. [DW]




