KEPOMPONG menjadi fase hidup ulat menjadi kupu-kupu. Tak lama lagi, fase itu usai.
Dari sekian fase perjalanan hidup ulat, kepompong menjadi fase yang unik. Ia menetap di suatu tempat yang kokoh.
Ulat hidup tapi tidak bergerak. Ulat diam untuk waktu yang cukup lama. Tidak makan, tidak minum, tidak bertemu pasangan, dan lainnya.
Ia diam di kepompong tidak sehari atau dua hari. Tapi, berhari-hari. Kisarannya antara sepekan hingga tiga pekan, tergantung jenis ulat.
Pelan tapi pasti, wujud tubuhnya berubah saat di kepompong. Tumbuh sayap. Tumbuh warna-warni di sayap dan kulit tubuh. Perubahan itu terjadi alami, tanpa menggerakkan tubuhnya sendiri.
Pada saatnya tiba, setelah perubahan wujud itu berubah sempurna, ia akan menjadi sosok yang sama sekali baru. Ia menjadi seekor kupu-kupu cantik yang mampu terbang tinggi.
**
I’tikaf menjadi ibadah yang unik yang mengharuskan pelakunya tinggal di sebuah tempat yang kokoh. Kokoh dalam arti fungsi dan suasana lingkungannya. Kokoh untuk tetap dalam suasana ibadah. Tempat itu adalah masjid.
Inilah ibadah yang tidak pernah ditinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sisa hidupnya. Kurang lebih selama sepuluh hari.
Seolah tak ada pergerakan kesibukan selama itu. Seolah tak ada interaksi dengan kesibukan dunia seperti di hari-hari lainnya. Kecuali ibadah di masjid. Siang dan malam.
Seperti halnya ulat yang melewati fase kepompong menjadi kupu-kupu cantik, i’tikaf akan membentuk pelakunya sebagai sosok yang baru: selalu berada di tempat tinggi dan tempat yang mulia. [Mh]