SETIAP manusia tentu ingin menjadi hamba yang dekat dengan Allah SWT dan terhindar dari godaan setan. Namun, dalam menjalani kehidupan, ada banyak ujian yang dapat membuat seseorang lalai. Salah satunya adalah keinginan untuk mendapatkan pujian, pengakuan, dan penghormatan dari orang lain atas amal kebaikan yang dilakukan.
Padahal, tidak semua amal yang terlihat baik di mata manusia memiliki nilai yang sama di sisi Allah. Niat menjadi perkara penting yang menentukan tujuan seseorang dalam beribadah. Karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa menjaga keikhlasan agar tidak terjebak dalam penyakit hati, seperti riya dan sum’ah.
Baca Juga: Rasulullah Diutus untuk Manusia dan Bangsa Jin
Kunci Menghadapi Iblis dengan Menjaga Keikhlasan
Riya merupakan perbuatan melakukan ibadah atau amal kebaikan agar dilihat dan dipuji orang lain. Sementara itu, sum’ah adalah memperdengarkan atau menceritakan amal kebaikan dengan tujuan memperoleh pujian. Kedua sifat tersebut dapat merusak kemurnian niat apabila seseorang menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama amalnya.
Allah SWT telah mengingatkan tentang tekad iblis untuk menyesatkan manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman melalui perkataan iblis:
فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya, “Demi kekuasaan Engkau, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82).
Ayat ini menunjukkan bahwa iblis memiliki tekad untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Godaannya dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk membisikkan keinginan agar seseorang melakukan kebaikan demi mendapatkan pujian dan pengakuan dari sesama manusia.
Namun, iblis juga menyebutkan adanya hamba-hamba Allah yang dikecualikan dari tipu dayanya. Dalam ayat berikutnya, Allah berfirman:
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ
Artinya, “Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Shad: 83).
Ayat tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa keikhlasan merupakan sifat penting yang harus diperjuangkan setiap Muslim. Hamba yang ikhlas berusaha menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah dan melakukan amal saleh.
Ikhlas bukan berarti seseorang tidak boleh merasa bahagia ketika mendapatkan apresiasi atas kebaikannya. Namun, ia tidak menjadikan pujian manusia sebagai alasan utama untuk beramal. Ketika tidak ada yang melihat, ia tetap berusaha melakukan kebaikan karena menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Lantas, bagaimana cara menjaga keikhlasan? Seorang Muslim dapat memulainya dengan meluruskan niat sebelum beramal, memperbanyak introspeksi diri, serta membiasakan ibadah yang tidak diketahui orang lain. Selain itu, memperbanyak doa agar hati senantiasa diteguhkan di atas ketaatan juga menjadi ikhtiar yang penting.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, kunci menghadapi godaan iblis adalah memperkuat tauhid dan menjaga kemurnian ibadah hanya untuk Allah SWT. Seorang Muslim hendaknya menjauhi syirik besar maupun syirik kecil, termasuk riya yang dapat mengotori niat.
Jangan sampai amal yang dilakukan dengan susah payah justru kehilangan nilainya karena keinginan mendapatkan pujian manusia. Teruslah berbuat baik, luruskan niat, dan mohonlah pertolongan Allah agar diberikan hati yang ikhlas. Sebab, tujuan utama seorang hamba bukanlah memperoleh pengakuan manusia, melainkan mengharapkan rida Allah SWT. [DW]
Sumber: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri





