ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Rabu, 20 November 2019 | 23 Rabiul Awwal 1441 H
Login | Register

 


 
 
 
 
KHAZANAH

Al Hasan bin Al Haitsam Ilmuan Muslim yang Dilupakan

11 May 2016 08:53:41
Al Hasan bin Al Haitsam Ilmuan Muslim yang Dilupakan

image[/caption[caption id="" align="alignleft" width="469" caption="Ilustrasi; republika.co.id"]image[/caption]

ChanelMuslim.com - Kiprah ilmuan muslim memang banyak yang tidak diketahui. Kini kita lebih mengenal ilmuan-ilmuan Barat, sementara jika dibuka lagi literatur banyak ilmuan muslim justru yang terlebih dulu memberikan prestasi dan penemuan-penemuan bermanfaat. Tetapi kemudian banyak pula ilmuan Barat yang mengganti nama suatu penemuan dengan nama pribadinya, atau menyembunyikan literaturnya.

Seperti halnya Al-Hasan bin Al-Haitsam seorang ilmuan muslim terkemuka dan memiliki prestasi yang menonjol diantara para ilmuan dibidang ilmu pengetahuan alam. Akan tetapi sangat disayangkan adalah dia tidak mendapatkan haknya, namanya terkubur, dan tidak mendapatkan kedudukan yang semestinya.

Ia memiliki nama lengkap Abu Al-Hasan bin Al-Hasan bin Al-Haitsam, ia lebih dikenal dengan nama Al-Bashri. Lahir di Bashrah, Iraq pada tahun 354 H (965 M) dan wafat di tahun 430 H (1039 M) di Cairo. Ia belajar di Bashrah kemudian ke Iraq untuk mendalami ilmu-ilmu agama baru kemudian matematika, astronomi, kedokteran dan filsafat.

Bidang yang menonjol pada Ibnul Haitsam diantaranya;

Ia memiliki nama lengkap Abu Al-Hasan bin Al-Hasan bin Al-Haitsam, ia lebih dikenal dengan nama Al-Bashri. Lahir di Bashrah, Iraq pada tahun 354 H (965 M) dan wafat di tahun 430 H (1039 M) di Cairo. Ia belajar di Bashrah kemudian ke Iraq untuk mendalami ilmu-ilmu agama baru kemudian matematika, astronomi, kedokteran dan filsafat.

Bidang yang menonjol pada Ibnul Haitsam diantaranya;

- Ilmu matematika yang meliputi ilmu hitung, aljabar, geometri dan hitungan trigonometri.

- Ilmu pengetahuan alam; terutama ilmu optik yang oleh Ibnul Haitsam disebut "ilmu al-manazhir."

- Ilmu Falak atau ilmu astronomi sebagaimana yang dikatakan oleh para ilmuan Islam.

Di umur 30 tahun Ibnul Haitsam pergi ke Mesir atas undangan Khalifah Dinasti Fatimiyah, Al-Hakim Biamrillah. Dia mengjabiskan sebagaian besar waktunya di Cairo. Disana ia melanjutkan penelitiannya dan menulis banyak buku. Ibnul Haitsam hidup di Cairo dalam keadaan sederhana dan tawadhu, dia hanya tinggal di sebuah kamar di dekat pintu gerbang Masjid Al-Azhar. Dia terpaksa menyibukkan diri dengan menggandakan buku-buku Euklides dan Ptolemaeus serta lainnya dan menjual di depan mesjid Al-Azhar untuk menyambung hidupnya.

Diantara penemuannya adalah;

- Ibnul Haitsam membongkar teori lama yang diwariskan ilmu filsafat Yunani bahwa penglihatan terjadi akibat keluarnya seberkas cahaya dari mata orang yang melihat objek benda sehingga terjadilah penglihatan. Ibnul Haitsam justru menemukan teori sebaliknya, bahwa penglihatan terjadi akibat adanya seberkas cahaya pada objek benda yang dilihat ke mata sehingga berpengaruh padanya. Teori sederhana ini sangat logis dan wajar jika disebut "pembuka yang nyata" bagi ilmu pengetahuan sebagai "langkah yang besar" dari langkah peradaban manusia.

- Ibnul Haitsam mempelajari studi keterbalikan dengan menggunakan cermin datar dan cermin cekung dan berhasil membuat kaidah khusus untuk itu. Dia menentukan posisi dan pengaruh pertemuan cahaya dan bagaimana cara memperbesar gambar.

- Menunjukkan adanya perbedaan ketebalan cahaya pada berbagai macam media (seperti kaca, air, udara, dan benda lainnya) serta menjelaskan bahwa tingkat pembiasan cahaya berbeda-beda antara satu media dengan lainnya.

- Penelitiannya pada lensa ( istilah Ibnu Haitsam untuk kaca pembesar) dan potensi pembesarannya membuka jalan bagi penemuan kaca mata.

- Dia mempelajari anatomi mata, menjelaskan susunannya dengan gambar-gambar dan membuat nama pada setiap bagiannya seperti yang kita kenal sekarang.

- Al Hasan bin Al-Haitsam menemukan suatu pemikiran tentang ruang gelap dan melakukan eksperimen yang menjadi dasar pembuatan kamera dan perlengkapan lainnya seperti lampu sorot, televisi dan video.

Ibnul Haitsam adalah contoh ilmuan yang berhati mulia, bersih hatinya dan mencintai kebaikan. Hal ini dapat diketahui dari penghormatannya yang diberikan kepada para ilmuan dan tidak menyelewengkannya. Apabila dalam penelitiannya dia menemukan suatu hal yang baru, dia menyebutkan dalam buku-bukunya dengan sikap tawadhu dan tidak sombong.

Ibnul Haitsam bukanlah orang yang suka mendekatkan diri pada penguasa untuk mendapatkan penghargaan atau materi. Dia memilih profesi sebagai pengganda naskah-naskah manuskrip dan menjualnya dan ia hanya cukup menggandakan tiga manuskrip yang cukup untuknya hidup setahun. Setelah itu, dia menjalani hari-harinya dengan zuhud agar dapat konsentrasi melakukan penelitian dan menulis karya-karyanya. (w)

Sumber : 147 Ilmuan Terkemuka dalam Sejarah Islam, Muhammad Gharib Gaudah, Pustaka Al-Kautsar

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
Bantu Pengungsi Gempa Maluku bersama Chanel Muslim
 
BERITA LAINNYA
 
 
KHAZANAH
20 September 2018 11:54:38

Hilangkan Kalimat “I Don`t Care” Demi Hijrah Bersama

 
KHAZANAH
03 August 2018 09:30:11

Pintu-Pintu Rezeki

 
KHAZANAH
05 August 2017 06:01:46

Inilah Bunda Syafiyah Istri Nabi Keturunan Yahudi

 
KHAZANAH
08 February 2018 19:45:07

Ukhti, Jangan Sakiti Saudaramu

indonesia dermawan, act, aksi cepat tanggap, cmm peduli
 
 
Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
TERBARU
 
Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)
 
Buku Pilu di Palu Mam Fifi
 
TERPOPULER
 
 
Jual Buku Mencintaimu Dengan Cinta Yang Lebih Tertata Penulis Fifi P.Jubilea
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga
JANGKAU LEBIH LUAS KONSUMEN ANDA,
beriklan di ChanelMuslim.com
Hotline : 0813.1956.2284