• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 5 Januari, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Editorial

Serba Terbalik di Dunia Corona

22/04/2020
in Editorial
73
SHARES
563
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

 

ChanelMuslim.com- Hampir dua bulan corona ngetop di negeri kita. Sejumlah hal baru mulai tampak. Hal yang menjadikan sesuatu menjadi seperti serba terbalik. Terutama nilai-nilai yang seumur hidup seperti itu adanya, kini jadi terasa berbeda seratus delapan puluh derajat.

Apa saja? Berikut ini di antara yang kita rasakan dan alami.

Dua bulan lalu, hampir semua orang merasa risih dengan sosok orang yang tampil di tempat umum dengan penutup wajah. Apa pun alasannya. “Nggak sopan! Ekslusif!” Dan lain-lain. Bukan simpati yang didapat, justru curiga.

Kini, siapa pun yang ingin berada di tempat umum tidak ingin tampil tanpa penutup wajah. Bukan hanya kaum muslimah. Semua, termasuk tentara dan anak-anak. Bukan karena takut dihukum atau dipaksa, tapi karena corona.

Dua bulan lalu, keakraban ditandai dengan bersalaman yang erat atau berpelukan badan. Tapi kini, keakraban cukup ditandai dengan isyarat gerak tangan dengan tanpa bersentuhan. Bukan karena ada ajaran baru. Tapi, karena corona.

Dua bulan lalu, kesalehan seorang pria bisa diukur dari seringnya ia berkunjung ke masjid. Mungkin karena tujuan shalat atau majelis taklim. Kalau ada yang tetap di rumah hingga usai panggilan azan, ada indikasi kurang taat.

Tapi kini, justru yang tetap datang ke masjid saat panggilan azanlah yang ada indikasi kurang taat. Bukan karena ada nilai baru dari penafsiran ayat. Tapi, karena corona.

Dua bulan lalu, penuhnya masjid saat shalat Jumat di suatu kampung menunjukkan tingginya ketaatan umat Islam di kampung itu. Tapi kini, justru kampung yang masjidnya masih penuh saat shalat Jumat menunjukkan indikasi pembangkangan.

Dua bulan lalu, mal, bioskop, tempat wisata, adalah tempat impian sebagian orang untuk dikunjungi. Tapi kini, justru tempat-tempat itulah yang paling ditakuti untuk dikunjungi.

Bukan karena tempat-tempat tersebut tidak lagi nyaman. Atau harga-harga barangnya yang sudah tidak terjangkau. Tapi, karena corona.

Dua bulan lalu, orang yang empati adalah mereka yang suka mengunjungi sanak kerabat untuk berbagi cerita. Tapi kini, justru yang paling empati adalah mereka yang cukup bercerita dari jarak jauh tanpa saling mengunjungi.

Bukan karena ada perselisihan baru antar sanak kerabat. Tapi, karena corona.

Dua bulan lalu, sebagian pemuda menganggap kafe atau warung-warung pinggiran jalan sebagai tempat yang paling nyaman untuk bersantai. Tapi kini, justru di tempat-tempat itulah kerap terjadi pencidukan oleh aparat keamanan.

Bukan karena aparat keamanan lebih sadis atau kejam. Tapi karena corona.

Dua bulan lalu, kebanyakan orang menjadikan minyak wangi sebagai sesuatu yang selalu ada di saku atau tas. Tapi kini, ada sesuatu lain yang jauh diperhatikan orang dari sekadar minyak wangi, yaitu cairan pencuci tangan.

Dua bulan lalu, pemerintah memandang para pemudik dengan welas asih, peduli, dan serba ingin memudahkan. Tapi kini, siapa pun yang ingin tetap mudik akan ada hukuman atau denda.

Dua bulan lalu, orang-orang di kampung akan menyambut penuh suka cita kepada mereka yang berbondong-bondong pulang kampung. Tapi kini, siapa pun yang tiba di kampung akan dikurung dua pekan. Bahkan, ada yang diusir untuk kembali ke tempat asal.

Dua bulan lalu, dokter adalah profesi yang paling menyenangkan. Sedikit kesibukan, banyak menghasilkan uang. Tapi kini, profesi dokterlah yang paling beresiko kematian. Jangankan bergelimang uang, sekadar makan dan pulang ke rumah pun seperti terlarang.

Dua bulan lalu, kata negatif adalah ungkapan yang paling tidak disukai. Kini, justru kata positiflah yang paling ditakuti.

Dua bulan lalu, kantor dan sekolah akan menghukum pegawai dan siswanya yang beraktivitas di rumah saja. Tapi kini, justru kantor dan sekolahlah yang mewajibkan mereka untuk tetap di rumah.

Dua bulan lalu, Amerika dan Eropa menjadi negara kebanggaan yang diidolakan semua orang. Orang-orang bermimpi untuk bisa singgah di sana, sukur-sukur bisa menetap di sana. Tapi kini, dikasih uang pun orang berpikir tiga kali untuk sekadar mampir di sana.

Bukan karena Amerika dan Eropa tidak lagi cantik dan kaya. Tapi, karena corona.

Dua bulan lalu, ruang-ruang publik berpendingin udara menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua orang. Tapi kini, tempat-tempat itulah yang paling dihindari.

Zaman corona, tanpa disadari, telah membentuk budaya baru yang sangat berbeda dari sebelumnya. Sebuah budaya tanpa banyak gerak, tanpa menghitung soal jarak, dan tanpa saling langsung bertatap wajah.

Ada sisi baiknya ketika orang-orang dipaksa untuk selalu bersama keluarga di rumah. Tapi, boleh jadi, akan tumbuh sisi buruk yang secara perlahan bisa tumbuh menjadi yang tidak kita inginkan. Yaitu, menjadi kurang peduli dengan yang di luar keluarganya.

Corona boleh jadi menjadi momen yang baik untuk menguji ketaatan umat untuk syariat yang baru dipahami sekarang. Bahwa, bukan perintah saja yang harus ditaati. Tapi, larangannya pun sama. Dan itu pun bagian dari sunnah.

Namun, jangan lengah. Karena kebiasaan berhari-hari, berpekan-pekan, bahkan bulan; dengan tidak menyambut seruan azan karena tetap ibadah di rumah akan membekas buruk untuk kemudian waktu. Beristigfarlah, karena ibadah wajib kita memang bagusnya tidak di rumah.

Jangan merasa aman dengan kita tidak ke masjid. Bermuhasabahlah, karena boleh jadi, bukan kita yang secara sadar tidak mau datang ke masjid karena corona. Tapi, karena Allah Yang Maha Agung merasa tidak perlu rumahNya dikunjungi kita-kita. (Mh)

 

 

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Jagung Alpukat Santan Keju, Resep Minuman Segar ala Faraleyama

Next Post

Lewat Aplikasi Zoom Baitul Wakaf Launching Program Ramadhan Produktif

Next Post

Lewat Aplikasi Zoom Baitul Wakaf Launching Program Ramadhan Produktif

Direktur Baitul Wakaf: Esensi Ramadhan Produktif adalah Membantu Sesama

Akad Nikah di Tengah Covid-19, Ribuan Calon Pengantin Daftar Nikah Sebelum 1 April

  • Milaf Cola: Inovasi Kola dari Saudi Arabia yang Dibuat dari Buah Kurma

    Milaf Cola: Inovasi Kola dari Saudi Arabia yang Dibuat dari Buah Kurma

    132 shares
    Share 53 Tweet 33
  • Islam Mengajarkan Mandiri, Bukan Mengemis

    112 shares
    Share 45 Tweet 28
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    7795 shares
    Share 3118 Tweet 1949
  • Pemuda Muhammadiyah DKI Tawarkan Kolaborasi Konkret untuk Jakarta Berkeadilan

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Kafe Sastra Balai Pustaka, Tempat Artis Nongkrong untuk Membaca

    185 shares
    Share 74 Tweet 46
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    521 shares
    Share 208 Tweet 130
  • Salimah Salurkan Bantuan Banjir dan Longsor kepada Lansia di Langsa

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3341 shares
    Share 1336 Tweet 835
  • Bercermin dengan Pemandangan Gunung dan Bunga

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11095 shares
    Share 4438 Tweet 2774
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga