SEPEKAN sudah negara-negara di Eropa mengalami rusuh. Mulai dari Prancis, Albania, Italia, Spanyol, dan lainnya. Warga protes keras karena mahalnya biaya hidup dan sarana pendidikan yang jauh dari memadai.
Tak ada pemandangan yang menarik di kota-kota besar di Eropa: Prancis, Albania, Italia, Spanyol, dan lainnya. Hal ini karena kota-kota yang semula terlihat indah itu kini diwarnai pembakaran dan penjarahan.
Memasuki Masa Kritis
Rusuh tak lagi terjadi di pinggiran Prancis. Begitu pun di kota-kota lain di Eropa. Paris bahkan seperti kota perang yang lekat dengan api dan kerusakan. Hampir semua kota besar di Prancis mengalami hal yang sama.
Presiden Prancis: Emmanuel Macron bahkan mengeluarkan kebijakan tegas. Yaitu, pemberlakuan jam malam di kota-kota yang rusuh itu termasuk di Paris. Hal ini karena rusuh tak lagi bisa dikendalikan.
Di Kota Tirana, Al-Bania, rusuh bahkan membakar gedung-gedung penting pemerintahan. Di antaranya, gedung Mahkamah Agung.
Jika rusuh ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, negara-negara tersebut akan mengalami kelumpuhan pemerintahan.
Dampak Krisis Global
Ada dua perang yang menguras sumber daya keuangan Eropa. Yaitu, perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.
Sudah menjadi rahasia umum, Eropa diminta untuk memobilisasi keuangan negara-negara mereka untuk membantu biaya perang Ukraina.
Di luar dugaan mereka, ternyata perang sudah berlangsung 4 tahun lebih, sejak meletus pada 24 Februari 2022. Bayangkan, untuk tahun ini saja, biaya yang tersedot untuk biaya perang sebesar 155 miliar dolar AS.
Uang sebesar itu merupakan patungan dari negara-negara Eropa. Termasuk, AS. Masalahnya, mereka tidak tahu kapan perang akan berakhir.
Yang kedua adalah perang yang terjadi di Timur Tengah. Memang, Eropa tidak terlibat langsung dalam perang ini. Hanya Israel dan AS saja yang ‘bertarung’ melawan Iran.
Namun, dampaknya juga menguras keuangan negara-negara di Eropa. Hal ini karena Eropa tak memiliki cadangan energi selain impor dari Timteng. Ketika itu tersendat, sektor energi menjadi barang yang paling mahal dan langka di Eropa.
Tidak heran jika negara-negara Eropa dalam wujud NATO seperti acuh tak acuh dengan perang di Timteng itu. Mereka menolak ikut campur. Bukan karena persoalan ideologi. Melainkan, karena uangnya sudah terkuras di Ukraina.
Tak ada cara lain untuk bertahan hidup bagi pembiayaan negara-negara Eropa. Kecuali, menaikkan pendapatan dari pajak dan kenaikan harga-harga.
Evaluasi Kerjasama dengan AS dan Israel
Ada hal menarik di tengah perseteruan NATO dan Rusia di Perang Ukraina dan Rusia. Di tengah himpitan keuangan, tiba-tiba AS balik badan dari perang melawan Rusia. Padahal, ‘biang kerok’ perang itu adalah AS.
Kini, Eropa di NATO tak lagi punya pilihan selain terus berperang mendukung Ukraina. Kalau tidak, Ukraina akan menjadi bagian dari Rusia karena kalah perang.
Karena itulah, Eropa melakukan ‘pembalasan’ ke AS dan Israel. Mereka menarik uang cadangan yang selama ini digaransikan di AS berupa cadangan emas mereka. Mereka juga melakukan putus dagang dengan Israel.
Inilah yang kini ‘dibaca’ warga di negara-negara Eropa. Mereka hanya menjadi korban dari manipulasi koalisi militer yang begitu rapuh yang dipimpin AS dan Israel.
Dan, sepertinya tak ada cara yang bisa mereka lampiaskan dari rasa kecewa itu kecuali dengan membakar dan menjarah produk-produk pebisnis Yahudi yang terpajang di etalase-etalase pertokoan dekat mereka. [Mh]



