AZERBAIJAN menegaskan larangan jilbab di sekolah. Menurut mereka, jilbab bertentangan dengan paham sekularisme yang dianut negara.
Pemerintah dan parlemen Azerbaijan mengeluarkan undang-undang larangan berjilbab di sekolah, 21 September 2026. Siswa dan guru dilarang mengenakan jilbab.
Undang-undang ini merupakan penegasan dari undang-undang sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 2010 tentang pakaian seragam di sekolah. Undang-undang itu menyatakan bahwa seragam sekolah harus benar-benar seragam dan tidak boleh bertentangan dengan paham sekularisme.
Benturan dengan Rakyat yang 96 persen Muslim
Azerbaijan memang tergolong negara yang aneh. Sejak merdeka dari Uni Sovyet pada tahun 1991, semangat anti Islamnya masih melekat. Mereka membanggakan tentang negara sekular, atau memisahkan agama dalam kebijakan publik.
Puncaknya pada tanggal 9 Oktober di mana Kementerian Pendidikan memantau sekolah-sekolah di Ibukota Baku. Seluruh siswi dan guru yang masih mengenakan jilbab tidak diperbolehkan masuk kelas.
Puncaknya, pada 10 Oktober, seluruh siswa laki dan perempuan serta para guru mereka melakukan unjuk rasa menolak undang-undang itu. Mereka melakukan boikot sekolah dengan kompak tidak mau masuk kelas.
Aksi ini didukung oleh para orang tua dan masyarakat. Aksi pun merembet ke sejumlah kota lain, seperti Sumqayit, Celilabad, dan Balahani.
Bahkan, warga Turki yang merupakan negara tetangga Azerbaijan ikut melakukan unjuk rasa di Konsulat Azerbaijan di Turki.
Kedok di Balik Sekularisme
Para pejabat Azerbaijan, mulai dari Presiden, Perdana Menteri, hingga para menteri; mendasari larangan berjilbab karena kebanggaan sebagai negara sekular.
Memang, undang-undang tidak menyebut kata ‘jilbab’ secara kongkrit. Tapi, aturan menekankan bahwa seragam sekolah harus tidak memunculkan simbol agama, khususnya Islam.
Pertanyaannya, kenapa Azerbaijan begitu keras mempertahankan ideologi sekularismenya, padahal 96 persen rakyatnya muslim?
Sepertinya, ada faktor lain yang melatarbelakangi itu. Seperti diketahui, hubungan dagang Azerbaijan dengan Israel begitu mesra.
Tidak main-main, 70 persen BBM atau bahan baku energi Israel diimpor dari negeri Kaukasus ini. Selain BBM, uranium dari bumi Azerbaijan tergolong yang terbesar di dunia.
Tidak tertutup kemungkinan, Israel mengkhawatirkan umat Islam yang mayoritas di Azerbaijan. Jika tidak ditekan dan dihalangi, perkembangan dakwah Islam pada akhirnya akan menyulitkan posisi Israel di sektor energi.
Tindakan Refresif
Pemerintah Azerbaijan begitu serius menghadapi demonstran jilbab yang sebagian besar siswa, guru, dan orang tua. Dikabarkan, sedikitnya 37 orang ditangkap.
Selain itu, masifnya pemberitaan aksi unjuk rasa jilbab ini, menjadikan pemerintah membatasi akses media sosial secara ketat. Tidak heran jika informasi tentang aksi unjuk rasa ini begitu sulit diperoleh media. [Mh]



