• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Jumat, 6 Maret, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Masa Depan Populisme di Indonesia

14/07/2018
in Berita
72
SHARES
557
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

Oleh: Sapto Waluyo, Direktur Center for Indonesian Reform.

ChanelMuslim.com– Isu kebangkitan populisme kembali marak di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Hal itu terjadi sebagai akibat kontradiksi sosial-ekonomi di negara-negara yang menjalani proses neo-liberalisasi tingkat lanjut dan sebagian masyarakat mengalami marginalisasi akibat ketimpangan yang bersifat historis. Lalu, apa kaitan populisme dengan sikap politik kaum Muslimin di Indonesia?

Masalah itu dibahas Vedi R. Hadiz, gurubesar sosiologi dari Universitas Melburne, Australia bersama Mardani Ali Sera (anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera) dalam diskusi terbatas di komplek DPR Senayan, Jakarta. Vedi menulis buku terkini tentang gejala populisme Islam di Turki, Mesir dan Indonesia yang berbeda dengan populisme yang muncul di Eropa atau Amerika Serikat dan Amerika Latin.

“Populisme adalah paham atau sikap politik yang memandang massa rakyat telah dieksploitasi oleh segelintir elite. Fungsi populisme membuat homogenisasi atau mempersatukan rakyat yang sebenarnya berbeda-beda status dan kepentingannya, karena posisi mereka yang ‘tertindas’ elite tertentu,” ujar Vedi yang memimpin Asia Institute di Universitas Melbourne. Karena itu, populisme di berbagai negara juga bervariasi sesuai dengan sumberdaya kulturalnya.

Populisme di Eropa hadir akibat praktek negara kesejahteraan tidak sepenuhnya mampu menyantuni masyarakat yang tertinggal oleh laju kapitalisme modern. Warga Eropa yang tersingkir kemudian mencari penyebabnya, mengapa mereka miskin secara relatif dibanding kelompok lain. “Mereka menemukan jawaban pada gelombang imigran yang dipersepsi telah merampas hak untuk mendapat kesejahteraan dan pekerjaan. Karena itu, nuansa xenophobia terlihat kental di Eropa,” jelas Vedi yang dikenal berpandangan strukturalis saat mengkaji kondisi Indonesia yang dikuasasi oligarki.

Di Amerika Latin seperti Brazil, populisme bisa berwajah reijius dengan sentuhan teologi pembebasan, sehingga seorang ketua serikat buruh seperi Lula da Silva sempat memenangkan pemilihan umum (2002) dan menjadi Presiden Brazil ke-35. Di Indonesia, populisme bisa berwajah Islamik karena konsep rakyat digantikan oleh ‘umat’ yang menyatukan berbagai kelompok berbeda. Gejala populisme itu ditengarai mendasari gerakan 212 yang fenomenal.

Ketua DPP PKS Bidang Kepemudaan, Mardani Ali Sera memahami penjelasan Vedi, namun memberi catatan penting. “Gerakan 212 berlangsung natural, semua individu dan kelompok tersentuh karena fakta terjadinya penistaan agama dan aparat penegak hukum terlihat agak diskriminatif. Jadi bukan politisasi agama. Momentumnya berdekatan dengan pemilihan kepala daerah Provinsi DKI Jakarta,” ungkap Mardani. Semua pihak tak menyangka akan sebesar itu pengaruhnya, hingga melengserkan gubernur petahana.

Gelombang 212 berlanjut dengan gerakan #2019GantiPresiden. Mulanya hanya tagar di media social, akhirnya berkembang menjadi gerakan kongkrit. “Sebagai besar pendukung #2019GantiPresiden adalah peserta Aksi Bela Islam 212. Mereka memiliki aspirasi sama untuk membawa perubahan di level nasional,” Mardani menegaskan, meskipun banyak orang mengkritik karena belum jelas siapa figur capres alternatif yang diusung.

Direktur Center for Indonesian Reform (CIR), Sapto Waluyo, yang ikut serta dalam diskusi terbatas itu melihat gejala populisme di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. “Selama ini populisme di Indonesia diasosiasikan dengan gerakan kiri, seperti pembela Wong Cilik. Tapi ternyata, partai politik yang mengklaim pembela rayat kecil justru mengamankan kepentingan pemodal besar. Karena itu, harus dikawal agar populisme Islam, jika benar ada tidak melenceng. Jangan hanya mengatasnamakan umat, tapi ternyata perjuangannya membela oligarki tertentu,” Sapto menandaskan.

Masa depan populisme Islam di Indonesia sangat tergantung partisipasi semua komponen umat dalam mengawal kebijakan sosial-ekonomi-politik pemerintah. Seperti disimpulkan Vedi, populisme di Turki berhasil karena kelas borjuasi yang kuat dan partai politik mampu mengendalikan elite militer, namun di Mesir populisme gagal karena hanya mengandalkan kelas menengah dan dikudeta militer. Di Indonesia elemen masyarakat sipil dan borjuasi masih lemah, sehingga diperlukan perjuangan lebih keras. (Mh)

 

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Sarapan Pagi dengan Telur Dadar Gulung Spesial

Next Post

16 dan 17 Juli Matahari Lintasi Ka’bah, Saatnya Cek Arah Kiblat

Next Post

16 dan 17 Juli Matahari Lintasi Ka'bah, Saatnya Cek Arah Kiblat

Wow, H&M Jual Besek dan Tampah Hingga Ratusan Ribu

Silaturrahim Memperkokoh Ukhuwah

  • Perang Pemikiran, Louis IX, dan Alasan Kenapa Umat Hari Ini Diam Atas Palestina

    Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    1848 shares
    Share 739 Tweet 462
  • Potret Anak Ketiga Lesti Kejora Lakukan Photoshoot Bersama Kedua Kakaknya

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8041 shares
    Share 3216 Tweet 2010
  • 4 Golongan yang Dirindukan Surga

    411 shares
    Share 164 Tweet 103
  • IRRESSRAMADHAN 2026 Mengusung Konsep Eksklusif dan Bernuansa Reflektif

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Kemenhaj RI Sikapi Kondisi Keamanan Timur Tengah yang Berdampak pada Perjalanan Umroh

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Antara Mendukung Syiah dan Netral di Perang Iran Israel

    116 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Materi Kultum, Bersyukur Kepada Allah

    134 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Penjelasan Ustaz Adi Hidayat tentang Hukum Shalat Sendiri di Rumah bagi Laki-Laki

    1932 shares
    Share 773 Tweet 483
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4484 shares
    Share 1794 Tweet 1121
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga