• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 19 Januari, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Masa Depan Populisme di Indonesia

14/07/2018
in Berita
72
SHARES
556
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

Oleh: Sapto Waluyo, Direktur Center for Indonesian Reform.

ChanelMuslim.com– Isu kebangkitan populisme kembali marak di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Hal itu terjadi sebagai akibat kontradiksi sosial-ekonomi di negara-negara yang menjalani proses neo-liberalisasi tingkat lanjut dan sebagian masyarakat mengalami marginalisasi akibat ketimpangan yang bersifat historis. Lalu, apa kaitan populisme dengan sikap politik kaum Muslimin di Indonesia?

Masalah itu dibahas Vedi R. Hadiz, gurubesar sosiologi dari Universitas Melburne, Australia bersama Mardani Ali Sera (anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera) dalam diskusi terbatas di komplek DPR Senayan, Jakarta. Vedi menulis buku terkini tentang gejala populisme Islam di Turki, Mesir dan Indonesia yang berbeda dengan populisme yang muncul di Eropa atau Amerika Serikat dan Amerika Latin.

“Populisme adalah paham atau sikap politik yang memandang massa rakyat telah dieksploitasi oleh segelintir elite. Fungsi populisme membuat homogenisasi atau mempersatukan rakyat yang sebenarnya berbeda-beda status dan kepentingannya, karena posisi mereka yang ‘tertindas’ elite tertentu,” ujar Vedi yang memimpin Asia Institute di Universitas Melbourne. Karena itu, populisme di berbagai negara juga bervariasi sesuai dengan sumberdaya kulturalnya.

Populisme di Eropa hadir akibat praktek negara kesejahteraan tidak sepenuhnya mampu menyantuni masyarakat yang tertinggal oleh laju kapitalisme modern. Warga Eropa yang tersingkir kemudian mencari penyebabnya, mengapa mereka miskin secara relatif dibanding kelompok lain. “Mereka menemukan jawaban pada gelombang imigran yang dipersepsi telah merampas hak untuk mendapat kesejahteraan dan pekerjaan. Karena itu, nuansa xenophobia terlihat kental di Eropa,” jelas Vedi yang dikenal berpandangan strukturalis saat mengkaji kondisi Indonesia yang dikuasasi oligarki.

Di Amerika Latin seperti Brazil, populisme bisa berwajah reijius dengan sentuhan teologi pembebasan, sehingga seorang ketua serikat buruh seperi Lula da Silva sempat memenangkan pemilihan umum (2002) dan menjadi Presiden Brazil ke-35. Di Indonesia, populisme bisa berwajah Islamik karena konsep rakyat digantikan oleh ‘umat’ yang menyatukan berbagai kelompok berbeda. Gejala populisme itu ditengarai mendasari gerakan 212 yang fenomenal.

Ketua DPP PKS Bidang Kepemudaan, Mardani Ali Sera memahami penjelasan Vedi, namun memberi catatan penting. “Gerakan 212 berlangsung natural, semua individu dan kelompok tersentuh karena fakta terjadinya penistaan agama dan aparat penegak hukum terlihat agak diskriminatif. Jadi bukan politisasi agama. Momentumnya berdekatan dengan pemilihan kepala daerah Provinsi DKI Jakarta,” ungkap Mardani. Semua pihak tak menyangka akan sebesar itu pengaruhnya, hingga melengserkan gubernur petahana.

Gelombang 212 berlanjut dengan gerakan #2019GantiPresiden. Mulanya hanya tagar di media social, akhirnya berkembang menjadi gerakan kongkrit. “Sebagai besar pendukung #2019GantiPresiden adalah peserta Aksi Bela Islam 212. Mereka memiliki aspirasi sama untuk membawa perubahan di level nasional,” Mardani menegaskan, meskipun banyak orang mengkritik karena belum jelas siapa figur capres alternatif yang diusung.

Direktur Center for Indonesian Reform (CIR), Sapto Waluyo, yang ikut serta dalam diskusi terbatas itu melihat gejala populisme di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. “Selama ini populisme di Indonesia diasosiasikan dengan gerakan kiri, seperti pembela Wong Cilik. Tapi ternyata, partai politik yang mengklaim pembela rayat kecil justru mengamankan kepentingan pemodal besar. Karena itu, harus dikawal agar populisme Islam, jika benar ada tidak melenceng. Jangan hanya mengatasnamakan umat, tapi ternyata perjuangannya membela oligarki tertentu,” Sapto menandaskan.

Masa depan populisme Islam di Indonesia sangat tergantung partisipasi semua komponen umat dalam mengawal kebijakan sosial-ekonomi-politik pemerintah. Seperti disimpulkan Vedi, populisme di Turki berhasil karena kelas borjuasi yang kuat dan partai politik mampu mengendalikan elite militer, namun di Mesir populisme gagal karena hanya mengandalkan kelas menengah dan dikudeta militer. Di Indonesia elemen masyarakat sipil dan borjuasi masih lemah, sehingga diperlukan perjuangan lebih keras. (Mh)

 

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Sarapan Pagi dengan Telur Dadar Gulung Spesial

Next Post

16 dan 17 Juli Matahari Lintasi Ka’bah, Saatnya Cek Arah Kiblat

Next Post

16 dan 17 Juli Matahari Lintasi Ka'bah, Saatnya Cek Arah Kiblat

Wow, H&M Jual Besek dan Tampah Hingga Ratusan Ribu

Silaturrahim Memperkokoh Ukhuwah

  • Rekomendasi Baju Lebaran 2026, Selain Rompi Lepas

    Rekomendasi Baju Lebaran 2026, Selain Rompi Lepas

    5959 shares
    Share 2384 Tweet 1490
  • Model Gamis Potongan Dua Tingkat bisa Jadi Rekomendasi untuk Lebaran 2026

    705 shares
    Share 282 Tweet 176
  • Tren Pakaian Denim Bergeser ke Model Berpotongan Longgar dan Lebar di Tahun 2026

    421 shares
    Share 168 Tweet 105
  • Poin Penting Perjalanan Isra’ Mi’raj dari Surat Al-Isra’ Ayat 1

    1742 shares
    Share 697 Tweet 436
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3400 shares
    Share 1360 Tweet 850
  • Cara Membuat Zuppa Soup Ayam Sederhana di Rumah

    174 shares
    Share 70 Tweet 44
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    7859 shares
    Share 3144 Tweet 1965
  • Yang Berhak Memandikan Jenazah Ibu

    2854 shares
    Share 1142 Tweet 714
  • Link Koleksi Murottal Terbaik Sepanjang Masa

    504 shares
    Share 202 Tweet 126
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11114 shares
    Share 4446 Tweet 2779
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga