SETIAP manusia tentu pernah melewati masa ketika kehidupan terasa tidak mudah. Ada saatnya kita menghadapi kekecewaan yang mendalam. Merasa tidak dihargai oleh orang lain atau bahkan kecewa terhadap diri sendiri karena sesuatu yang belum berhasil diwujudkan.
Dalam keadaan seperti itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan atau pengakuan manusia. Kita membutuhkan petunjuk Allah agar hati kembali menemukan ketenangan.
Baca Juga: Apakah Benar Konsumsi Tauge Dapat Meningkatkan Kesuburan Pria atau Wanita?
Bagaimana Cara Mendapatkan Cahaya Petunjuk Allah agar Hati Tetap Tenang dan Lapang?
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 35:
يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ
Artinya: “Allah memberi petunjuk dengan cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa cahaya petunjuk merupakan karunia Allah yang sangat berharga. Cahaya itu bukan sekadar membuat seseorang memahami mana yang benar dan salah. Lebih dari itu petunjuk Allah dapat membimbing hati agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana. Lantas bagaimana cara merawat cahaya petunjuk tersebut dalam kehidupan sehari-hari?
1. Belajar Menerima Diri Sendiri dengan Penuh Syukur
Salah satu tanda hati yang mulai mendapatkan ketenangan adalah kemampuan menerima diri sendiri. Kita menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna karena setiap orang memiliki perjalanan hidup masing-masing.
Terkadang kita terlalu sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain. Melihat pencapaian seseorang kemudian merasa tertinggal. Melihat kebahagiaan orang lain lalu menganggap kehidupan sendiri penuh kekurangan.
Padahal Allah telah memberikan rezeki dan ujian dengan ketetapan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya.
Belajar menerima diri bukan berarti berhenti memperbaiki kehidupan. Sebaliknya kita tetap berusaha menjadi lebih baik tanpa harus membenci keadaan diri sendiri. Syukuri apa yang sudah dimiliki dan perbaiki hal-hal yang masih perlu dibenahi.
2. Tidak Membiarkan Sikap Orang Lain Merusak Ketenangan Hati
Dalam kehidupan sosial kita akan bertemu dengan berbagai karakter manusia. Ada yang memperlakukan kita dengan baik. Ada pula yang terkadang mengucapkan perkataan menyakitkan atau melakukan sesuatu yang mengecewakan.
Tidak semua orang akan memahami niat baik kita. Bahkan terkadang orang yang paling kita sayangi justru menjadi seseorang yang menghadirkan luka.
Namun jangan sampai perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan kebaikan dalam diri. Kita boleh merasa sedih dan kecewa. Kita juga boleh menjaga jarak dari hubungan yang tidak sehat. Akan tetapi jangan biarkan kebencian tumbuh terlalu lama hingga menguasai hati.
Ingatlah bahwa ketenangan hidup tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan kita. Ada Allah yang selalu mengetahui isi hati dan setiap perjuangan yang tidak diketahui orang lain.
3. Belajar Memaafkan Tanpa Harus Membenarkan Kesalahan
Memaafkan merupakan salah satu bentuk kelapangan hati yang tidak selalu mudah dilakukan. Apalagi ketika luka yang ditinggalkan seseorang begitu dalam.
Namun Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki sifat pemaaf. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 134 bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Memaafkan bukan berarti membiarkan seseorang terus melakukan kesalahan. Bukan pula berarti kita harus kembali menjalin hubungan yang sama seperti sebelumnya.
Memaafkan merupakan usaha untuk melepaskan beban kebencian agar hati tidak terus-menerus terikat dengan masa lalu. Dengan begitu kita memiliki ruang untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan dengan lebih damai.
4. Memperbanyak Dzikir agar Hati Tidak Mudah Gelisah
Kesibukan dunia terkadang membuat manusia lupa memberikan waktu bagi hatinya untuk mengingat Allah. Kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaan dan urusan sehari-hari. Namun sering kali hanya menyediakan sedikit waktu untuk berdzikir.
Padahal Allah SWT telah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Dzikir dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana. Membaca istigfar setelah salat. Mengucapkan tasbih dan tahmid atau memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.
Jangan menunggu hati merasa gelisah untuk mengingat Allah. Jadikan dzikir sebagai kebiasaan harian agar hubungan kita dengan-Nya semakin dekat.
5. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk Kehidupan
Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca ketika memiliki waktu luang. Di dalamnya terdapat petunjuk yang membimbing manusia dalam menjalani kehidupan.
Ketika menghadapi persoalan kita dapat menemukan banyak pelajaran melalui ayat-ayat Al-Qur’an. Ada kisah Nabi Ayyub AS yang mengajarkan kesabaran. Ada kisah Nabi Yusuf AS yang mengajarkan keteguhan dalam menghadapi ujian dan pengkhianatan. Ada pula kisah Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan besarnya ketaatan kepada Allah.
Luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Tidak harus langsung dalam jumlah banyak. Mulailah dengan beberapa ayat kemudian pelajari maknanya dan berusaha mengamalkannya.
Sebab hati yang dekat dengan Al-Qur’an akan memiliki pegangan ketika menghadapi berbagai perubahan kehidupan.
6. Memperbaiki Prasangka kepada Allah
Ketika doa belum terkabul atau keinginan tidak berjalan sesuai harapan kita terkadang merasa sedih. Bahkan ada yang mulai mempertanyakan mengapa kehidupannya harus menghadapi begitu banyak kesulitan.
Padahal tidak semua hal yang kita inginkan merupakan sesuatu yang terbaik menurut Allah. Bisa jadi sesuatu yang belum diberikan justru mengandung hikmah yang belum mampu kita pahami.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi manusia membenci sesuatu padahal hal tersebut baik baginya. Sebaliknya boleh jadi manusia menyukai sesuatu padahal hal tersebut buruk baginya.
Karena itu teruslah berusaha dan berdoa. Jangan terburu-buru berprasangka buruk kepada Allah hanya karena kenyataan belum sesuai harapan.
7. Terus Melakukan Kebaikan Meski Tidak Mendapatkan Balasan
Hati yang diterangi petunjuk Allah akan belajar melakukan kebaikan bukan semata-mata demi mendapatkan pujian manusia.
Kita tetap berusaha berkata baik meskipun tidak selalu diperlakukan dengan baik. Membantu orang lain tanpa harus menunggu balasan dan menjaga keikhlasan meskipun tidak ada yang melihat.
Jangan sampai kebaikan yang kita lakukan bergantung pada penilaian manusia. Sebab Allah mengetahui setiap niat dan perbuatan hamba-Nya.
Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi. Tidak harus memiliki jabatan tinggi untuk memberikan manfaat. Bahkan senyuman dan perkataan yang menenangkan juga bisa menjadi bentuk kebaikan sederhana.
8. Memohon agar Allah Senantiasa Membimbing Hati
Pada akhirnya manusia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menjaga keimanan. Kita membutuhkan pertolongan dan petunjuk Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Karena itu jangan pernah berhenti berdoa agar Allah memberikan cahaya petunjuk ke dalam hati. Mintalah agar diberikan kesabaran ketika menghadapi ujian dan kelapangan ketika menerima ketetapan-Nya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Cahaya petunjuk Allah merupakan anugerah yang sangat berharga. Kehadirannya tidak selalu membuat kehidupan terbebas dari masalah. Namun petunjuk tersebut membantu kita menghadapi berbagai keadaan dengan hati yang lebih tenang dan penuh keimanan.
Jangan terlalu sibuk menilai kehidupan orang lain hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Teruslah belajar bersyukur dan memaafkan serta mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang hatinya senantiasa diterangi cahaya petunjuk. Mampu menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada dan tetap memilih kebaikan meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Doa memohon cahaya dan petunjuk Allah:
Ya Allah anugerahkanlah cahaya-Mu ke dalam hati kami. Lapangkan jiwa kami dan jernihkan pikiran kami. Bimbinglah langkah kami agar senantiasa berada di jalan yang Engkau ridai. Jauhkan kami dari kebencian dan kesombongan serta prasangka buruk. Jadikan kami hamba yang mudah bersyukur dan mampu memaafkan. Istiqamahkan hati kami dalam kebaikan hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal alamin. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti





