ISRAEL sukses menggelar pemilu pada 27 Oktober lalu. Hasilnya akan diumumkan pada 4 November mendatang. Apa pengaruhnya untuk nasib Palestina?
Dunia Islam menyoroti hasil pemilu yang digelar Selasa, 27 Otober lalu. Ada dua calon pemimpin Israel yang bertarung: Netanyahu dan Eisenkot.
Hasil perhitungan sementara atau exit poll memang belum bisa memastikan siapa calon yang berhak memimpin. Hal ini karena raihan suara dua calon itu hampir seimbang dari 120 kursi di parlemen (Knesset).
Suara Partai Arab
Ada yang unik di Israel tentang satu partai yang dianggap sebagai wakil dari warga Arab. Mereka mendiami wilayah itu jauh sebelum Israel merdeka tahun 48. Tapi, partai itu seperti hanya sebagai pelengkap atau pemanis demokrasi.
Namun kali ini, posisi Partai Arab menjadi seperti ‘king maker’. Karena, raihan kursinya yang sebesar 17 kursi bisa menjadi penentu kemenangan salah satu pihak.
Selama ini, partai Netanyahu berseberangan dengan Partai Arab. Dengan kata lain, ada kemungkinan terjadinya koalisi antara Partai Arab dengan oposisi atau lawan dari Netanyahu. Jika itu yang akan terjadi, maka Netanyahu akan tersingkir dari kursi penentu kebijakan Israel selanjutnya.
Siapa Eisenkot
Pihak Iran jauh-jauh hari sudah menyatakan bahwa siapa pun yang memimpin Israel tak akan berdampak positif pada Palestina.
Pernyataan ini boleh jadi sangat wajar. Hal ini karena Eisenkot merupakan sosok yang tak kalah bengisnya dengan Netanyahu. Sama-sama ingin Palestina binasa.
Eisenkot merupakan mantan pemimpin militer Israel atau IDF. Bahkan, ia pernah menyatakan bahwa seluruh senjata Israel boleh dijadikan pemusnah untuk rakyat sipil Palestina. Apa pun jenis senjatanya.
Satu hal lagi, salah seorang putra Eisenkot yang juga tentara IDF tewas dalam peristiwa perang pasca 7 Oktober 2023 dengan Hamas lalu.
Dengan kata lain, kebencian dan kebrutalan Eisenkot terhadap Palestina tidak di bawah Netanyahu. Setidaknya, sama. [Mh]


