IBNU Batutah (Ibnu Bathuthah) menjadi penjelajah terjauh sepanjang sejarah. Banyak pelajaran dari ‘kenekatan’ beliau.
Di abad ke-13, dunia Islam dihadirkan dengan sosok unik. Beliau adalah ahli dalam Al-Qur’an, fikih, sosiologi, dan geografi. Beliau bernama Muhammad bin Abdullah bin Batuta. Biasa disebut Ibnu Batuta.
Ibnu Batuta lahir di Maroko pada 24 Februari 1304. Ayahnya seorang ahli fikih dan menjadi hakim di Maroko. Sejak kecil, Ibnu Batutah sudah hafal Al-Qur’an dan mendalami ilmu fikih. Ia sangat tertarik dengan ilmu geografi.
Sejak lama ia ingin sekali menjelajahi banyak dunia Islam, selain Mekah dan Madinah tentunya. Tapi, obsesi itu baru terlaksana ketika di usia 21 tahun. Waktu itu, ia masih lajang.
Awalnya, Ibnu Batutah ingin menunaikan ibadah haji. Ia berangkat dari rumah seorang diri. Tanpa iring-iringan, tanpa pendamping, apalagi pengawal.
Selepas menunaikan ibadah haji dengan melalui jalur darat: melewati Mesir, Palestina, Suriah, dan akhirnya ke selatan di Madinah dan Mekah; Ibnu Batutah tidak pulang ke rumah. Ia melanjutkan perjalanan ke Bagdad, Irak.
Dari Irak, ia ke arah timur menuju Persia dan wilayah Mongol dan Rusia saat ini dan ke Tiongkok. Dari situ, Ibnu Batutah balik lagi ke Mekah menunaikan ibadah haji lagi.
Dari Mekah, ia kembali menelusuri Laut Merah ke arah selatan: Yaman dan wilayah-wilayah di Afrika. Dan seterusnya, bahkan sempat mampir ke Aceh selama sekitar 12 hari. Ia juga tinggal lama di Delhi, India. Di sana, ia diminta sultan menjadi hakim.
Setelah dari kawasan Asia Tenggara, India, dan Afrika, Ibnu Batutah menjelajahi wilayah Turki dan sebagian wilayah Eropa.
Setelah puas, ia kembali ke negerinya di Maroko. Perjalanannya begitu panjang: selama 30 tahun dengan jarak sekitar 120 ribu kilometer, melampaui Marcopolo.
Seorang sultan di Maroko akhirnya mendorong Ibnu Batutah untuk membukukan kisah perjalanan panjangnya itu. Buku itu diterjemahkan sebagai Rihlah Ibnu Batutah dan menjadi banyak rujukan ilmu geografi dan sosiologi dunia Islam hingga saat ini.
**
Al-Qur’an memerintahkan: siiruu fil ardh, berjalanlah di muka bumi atau adakanlah perjalanan di muka bumi (QS. Ar-Rum: 42).
Perjalanan panjang itu tidak akan terjadi jika kita merasa cukup, merasa paling benar, merasa tidak perlu mengenal umat lain, miskin bahasa, miskin pergaulan, dan miskin pengetahuan dasar tentang Al-Islam: Al-Qur’an, Hadis, dan Syariah.
Orang pandai itu selalu merasa bodoh. Dan sebaliknya, orang bodoh itu selalu merasa pandai. [Mh]



