PERNAHKAH kita merasa hidup orang lain terlihat lebih mudah dibandingkan kehidupan sendiri? Ada orang yang pekerjaannya semakin berkembang, usahanya semakin maju, rumah tangganya terlihat bahagia, atau rezekinya seolah mengalir tanpa henti. Sementara itu, kita masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup, menyelesaikan persoalan, dan menunggu doa-doa yang belum terwujud.
Tanpa disadari, keadaan tersebut terkadang membuat hati merasa iri. Kita mulai membandingkan pencapaian orang lain dengan apa yang kita miliki. Padahal, setiap manusia mempunyai perjalanan hidup, ujian, dan waktu yang berbeda-beda.
Baca Juga: Kisah Teladan Tumadir binti Amr bin As-Syarid As-Sulamiyah dalam Sejarah Islam
Jangan Iri dengan Rezeki Orang Lain Percayalah pada Ketetapan Allah
Sebagai seorang Muslim, kita perlu mengingat bahwa Allah SWT telah mengatur rezeki setiap hamba dengan hikmah-Nya. Rezeki bukan hanya berupa uang, rumah, kendaraan, atau jabatan. Kesehatan, keluarga yang menyayangi kita, ketenangan hati, kesempatan beribadah, dan waktu untuk memperbaiki diri juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
Artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32).
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam perasaan iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain. Setiap orang mendapatkan karunia dengan bentuk dan kadar yang berbeda. Apa yang terlihat indah dalam kehidupan seseorang belum tentu menggambarkan seluruh perjalanan yang dijalaninya.
Daripada sibuk membandingkan diri, lebih baik kita memusatkan perhatian pada usaha yang sedang dilakukan. Jika ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, berusahalah dengan sungguh-sungguh. Carilah rezeki melalui jalan yang halal, tingkatkan kemampuan diri, dan jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Ingatlah bahwa rezeki yang baik bukan sekadar banyaknya harta, melainkan juga keberkahan di dalamnya. Penghasilan yang diperoleh dengan jujur dan digunakan untuk kebaikan jauh lebih menenangkan daripada harta melimpah yang didapatkan melalui cara yang dilarang Allah.
Selain berusaha, jangan lupakan rasa syukur. Syukur membantu kita menyadari bahwa masih banyak nikmat yang telah Allah berikan. Ketika hati terbiasa bersyukur, kita tidak mudah merasa kekurangan hanya karena melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih berkecukupan.
Tentu saja, bersyukur bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Kita tetap boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik, selama keinginan tersebut mendorong kita untuk berusaha tanpa merendahkan atau mengharapkan keburukan bagi orang lain.
Setelah berikhtiar dan berdoa, belajarlah bertawakal kepada Allah. Serahkan hasilnya kepada-Nya sambil terus memperbaiki diri. Jangan mengukur keberhasilan hanya berdasarkan seberapa cepat kita mencapai sesuatu, sebab setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Pada akhirnya, jangan biarkan rezeki orang lain merampas ketenangan hati kita. Jika melihat seseorang mendapatkan nikmat, belajarlah turut mendoakan kebaikan untuknya. Percayalah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Teruslah berusaha dengan cara yang halal, memperbanyak syukur, dan menjaga tawakal. Sebab, hidup bukan perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mendapatkan rida Allah SWT. [DW]





