KASUS gangguan irama jantung atau aritmia diprediksi akan terus mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam satu dekade ke depan seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat.
Sayangnya, ancaman masalah kardiovaskular yang serius ini harus berbenturan langsung dengan realitas terkait minimnya tenaga medis spesialis di lapangan, serta belum meratanya fasilitas pelayanan kesehatan paripurna di berbagai wilayah Nusantara.
Kondisi tersebut kini menjadi sebuah ironi yang memprihatinkan di tengah upaya keras dunia medis untuk menekan angka kematian akibat henti jantung mendadak.
Potensi peningkatan kasus gangguan irama jantung ini tentu sangat memerlukan kesiapan infrastruktur medis yang tangguh.
Sebuah proyeksi yang cukup mengkhawatirkan terkait tren penyakit mematikan ini ke depannya. Seiring berjalannya waktu memang angka kejadian aritmia ini naik 2 sampai 3 kali lipat dalam dekade mendatang.
Baca juga: Serangan Jantung Mendadak saat Olahraga Bisa Terjadi pada Usia Muda
Kasus Gangguan Irama Jantung Alami Lonjakan yang Signifikan
Ketidaksiapan sistem kesehatan nasional tersebut paling nyata terlihat pada sebaran fasilitas medis canggih di daerah. Kesenjangan akses penanganan pasien antarpulau masih sangat lebar.
Baru 16 dari 34 provinsi yang bisa memberikan layanan aritmia secara paripurna, termasuk akses terhadap ablasi kateter. Contohnya tindakan semacam menyembuhkan aritmia, pemasangan alat-alat implantasi yang memang bisa mencegah henti jantung mendadak.
Belum lagi, penanganan medis yang kompleks ini juga masih dihadapkan pada kendala di mana pembiayaannya masih sangat terbatas.
Selain persoalan infrastruktur penunjang dan skema pembiayaan, tantangan terberat dalam krisis ini justru terletak pada aspek sumber daya manusia.
Jumlah tenaga ahli kardiologi yang memiliki kompetensi khusus untuk menangani gangguan listrik jantung berbanding terbalik dengan total populasi masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai informasi, untuk meng-cover 280 juta penduduk di Indonesia, dokter aritmia saat ini masih hanya berjumlah 66 orang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ketimpangan ekstrem antara jumlah pasien dan ketersediaan dokter ini menuntut adanya intervensi strategis dan kolaborasi lintas sektor guna mencetak lebih banyak tenaga ahli berkompeten ke depannya.
Upaya penambahan kuota tenaga medis terus diupayakan secara intensif sebagai langkah konkret penyelamatan nyawa.
Minimnya jumlah dokter spesialis dan layanan teknis ini pada akhirnya berdampak pada potret kualitas penanganan penyakit jantung di kancah internasional.
Apabila disandingkan dengan negara-negara tetangga, posisi Indonesia masih tertinggal cukup memprihatinkan.
Fakta empiris ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi sistem kesehatan nasional. Diperlukan pemerataan fasilitas secara masif dan percepatan pendidikan spesialisasi agar kesenjangan ini tidak memakan korban jiwa akibat keterlambatan penanganan darurat. [Din]



