NIKAH itu bisa berbuah berkah. Ada rezeki, ada pahala, ada teman hidup, dan ada keturunan.
Ada doa dari Nabi Zakaria alaihissalam yang diabadikan dalam Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 89.
Doa itu berbunyi, “Rabbi, laa tadzarni fardan, wa anta khairul waaritsiin. Ya Rabbi, jangan Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan atau pasangan) dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.”
Doa itu sering dipanjatkan bahkan ketika usia beliau sudah delapan puluhan tahun. Hal itu karena Allah menguji beliau dengan belum adanya keturunan.
Pasangan dan keturunan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Tapi, tak ada keturunan tanpa pasangan.
Nabi Musa alaihissalam juga memanjatkan doa ketika beliau tersasar di sebuah negeri. Tiba-tiba dunianya seperti berubah sesaat. Ia berada jauh dari Mesir yang penuh konflik. Ia seperti merasa ada yang kurang dari dirinya: merasa sendiri.
Nabi Musa alaihissalam memanjatkan doa: Rabbi, innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir. “Ya Rabbi, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashash: 24)
Tak lama doa itu dipanjatkan, Allah mempertemukan Nabi Musa dengan putri Nabi Syu’aib yang akhirnya menjadi istri beliau.
Dua doa yang dipanjatkan dari dua manusia mulia itu mempertemukan satu kata yang sama. Yaitu, khair atau kebaikan.
**
Jodoh atau pasangan adalah kebaikan. Dan buahnya: keturunan, juga kebaikan lain yang begitu banyak.
Bersyukurlah jika kita telah Allah anugerahkan jodoh. Bersyukurlah jika kita juga Allah anugerahkan keturunan. Sebuah kebaikan yang berbuah kebaikan.
Dan kita yang belum Allah anugerahkan jodoh, bersabarlah. Niat baik untuk meraih kebaikan itu juga telah Allah catat sebagai kebaikan. [Mh]



